Headlines News :

    Cerita Sex: Bonus Asuransi

    – Cerita Sex: Bonus Asuransi – Tahun 1997 ada sebuah kenangan indah di daerah wisata Kopeng masuk wilayah Kabupaten Salatiga di Jawa Tengah dan waktu itu aku masih bekerja di salah satu perusahaan jasa pelayaran di Semarang.
    cerita-sex-bonus-asuransi
    Pak Bram, sebut saja begitu adalah pimpinan tempatku bekerja, dan beliau saat itu berusia kurang lebih 48 tahunan namun potensi seksualnya masih hebat. Aku sendiri menempati posisi deputy dari Pak Bram dan semua sepak terjangnya sudah ada pada tanganku semua dan aku tetap menjaga kepercayaannya padaku. Itulah kenapa sekretarisnya selalu berganti-ganti dan selalu muda dan cantik-cantik padahal menurutku perusahaan yang tidak begitu besar itupun belum membutuhkan seorang sekretaris. Hanya saja saat jam istirahat dan menjelang kepulangan Pak Bram, si sekretaris tadi disibukkan dengan acara office party.
    Cerita Sex – Kalau sudah jam-jam sibuknya Pak Bram itu, kami seluruh kantor tidak berani mengganggu acaranya yang membutuhkan waktu, biasanya rata rata 45 menit sampai 1 jam. Dan entah apa yang mereka lakukan berdua dengan sekretarisnya selama itu, namun yang jelas setiap kali office party itu berakhir, Pak Bram kelihatan lebih fresh dan sebaliknya sekretarisnya nampak sedikit kusut dan menampakkan ekspresi kurang puas. Seluruh telepon yang minta sambung ke Pak Bram pasti tidak akan disambungkan dengan alasan keluar kantor atau lunch.
    Suatu hari datanglah seorang agen asuransi seorang wanita untuk menawarkan jasa ke kantor kami, dan saat itulah Pak Bram melihat wanita itu dan diminta masuk ke ruangannya.
    “Saya Sofi,” wanita itu memperkenalkan dirinya.
    “Bram,” seraya mengulurkan tangannnya.
    “Saya Prasetyo,” sahutku memperkenalkan diriku.
    Singkatnya Pak Bram nampaknya tertarik dengan jasa asuransi itu dan mengikut sertakan seluruh karyawan perusahaan tempat kami bekerja. Dan saat itu juga Pak Bram menandatangani perjanjian dengan
    perusahaan asuransi dari Mbak Sofi.
    “Every thing is OK, jika ada apa-apa hubungi saja Pak Pras, yach,” kata Pak Bram mengakhiri perjanjian kami.
    Aku akui memang wanita itu pandai dan menarik sekali cara perkenalannya atau kami sudah terlena oleh kemolekan tubuh wanita ini. Seminggu kemudian Mbak Sofi mengantar polis-polis ke perusahaan kami dan kebetulan Pak Bram sedang dinas ke Jakarta dan kali ini aku yang harus menemui.

    “Maaf Pak Bram lagi ke Jakarta, silakan duduk! mau minum apa?” kataku menyambut mereka di ruanganku.
    “Apa saja dech yang segar,” sahut Sofi.
    “Oh iya, Pak Pras, kenalkan ini asisten saya, namanya Yeni,” kata Sofi memperkenalkan rekan kerjanya.
    Acara serah terima polis berlangsung begitu cepat dan sejenak kami hening dan terdiam tiba-tiba, suasana terlihat kaku.
    “Wow, selera Mas Pras boleh juga,” kata Sofi tiba-tiba.
    “Em, emangnya kenapa Mbak?” tanyaku semakin akrab saja.
    “Tuh…” kata Sofi sambil menunjuk ke arah kalender meja yang bergambar cewek bule polos dengan pose mengundah nafsu yang melihatnya.
    “Yach maklumlah aku khan laki-laki Mbak, nanti kalo gambarnya cowok wah.., lha bisa berabe,” sahutku sekenanya.
    “Begini Pak Pras, selain menyampaikan polis kami ke sini juga ingin memberikan bonus untuk perusahaan ini karena omzetnya besar sekali,” kata Sofi di sela-sela gurauan kami.
    “Baik nanti saya sampaikan ke Pak Bram, terus…” pembicaraanku di sela oleh Sofi.
    “Begini Pak Pras nanti kita bicarakan di dinner party, kita akan kasih tau tempatnya,” kata Sofi sambil menatap tajam ke arahku.
    Besok adalah hari Sabtu, biasanya kantor kami masuk setengah hari, dan siang nanti aku harus jemput Boss yang datang bersama sekretarisnya. Dalam perjalanan HP-ku berdering dan nampaknya dari Sofi.
    “Prasetyo di sini,” jawabku.
    “Mas Pras, entar malem bisa khan? tempatnya rahasia, nanti sore kita jemput di kantor,” kata Sofi.
    “Apaan sich pakai rahasia segala,” tanyaku yang membuat Pak Bram penasaran.
    “Sebentar Fi, aku lagi bersama Pak Bram dan Mbak Niken,” jawabku.
    “Pak Bram, ini dari Sofi mengajak makan malem entar malem, dan mereka akan membicarakan soal bonus, akan tapi dia merahasiakan tempatnya,” aku menyampaikan pesan Sofi semua ke Pak Bram.
    “Mas, aku ikutan yach,” rengek Niken manja.
    “Hem emhh…” sahut Boss tuaku.
    “OK, Mbak Sofi nanti sekalian Mbak Niken juga ikutan,” aku menyambung pembicaraan ke Sofi. Sofi terdiam sejenak lalu, “Its OK, Yeni juga kau ajak kok, pokoknya siiplah, bye,” Sofi menutup pembicaraan kami.
    Kami berbalik arah atas perintah Pak Bram untuk menuju kantor karena sebentar lagi sore dari pada ke rumah Pak Bram nanti urusan sama istrinya bisa berabe. Kantor sudah lengang karena sudah pada pulang sejak pukul 13.00 tadi dan tinggal kami bertiga serta satpam penjaga kantor.Begitu sampai di kantor Bram dan Niken rupanya tidak dapat menahan gejolak birahinya dan dengan terburu-buru masuk ke ruangan Bram namun pintu masih terbuka sedikit. Akhirnya aku tahu apa yang dilakukan Bram dengan sekretaris-sekretarisnya dahulu, juga dengan Niken dengan mata kepalaku sendiri.
    Desahan nikmat Bram semakin keras dari ruanganku yang kebetulan bersebelahan, demikian pula desah Niken.
    “Niken, aahhmmm.. mmmpphh… hisepph… aaaghhh…” desah Bram membuat birahiku perlahan bangkit dan menjalar ke selangkanganku untuk mengacungkan diri.
    “Braaamm… gelliii,” desah Niken kemudian. Namun yang aku dengar hanya desah dan dengusan nafas Bram yang tenggelam dalam birahinya, dan kemana desah manja Niken? tanyaku dalam hati. Beberapa saat kemudian,
    “Nikenhhh… ahhgghhh.. kku.. kell…” kata Bram terbata-bata menahan laju spermanya.
    “Aaaghhh…” teriak Bram keras menyemburkan spermanya diiringi suara gaduh dari ruangannya, sepertinya benturan kursi dengan meja.
    “Emmmpphhh…” Niken mendesah lirih. Sebentar kemudian terdengar orang mengguyurkan shower, pasti si Niken lagi bersih- bersih, tebakku. Lalu ruangan itu kembali hening, hanya obrolan-obrolan pelan dari ruangan itu, kadang aku dengar suara tertawa kecil dari Niken.
    “Pras, sini lho jangan bengong di situ,” suara Bram keras memanggilku saat aku mulai menjelajah internet di PC-ku.
    “Sebentar Boss,” sahutku dan dengan sengaja aku buat lama agar mereka sempat merapikan pakaian masing-masing.
    Lebih kurang tiga menit berlalu aku baru berani mengetuk pintu Boss yang terbuka sedikit namun aku masih ragu-ragu.
    “Masuk Pras, kemarilah kita berpesta,” kata Bram datar.
    Alangkah terkejutnya aku ketika masuk ke ruangan itu melihat Niken tergolek bugil di meja Bram, sementara Bram masih menghisap puting Niken, dan jari tengahnya bekerja di vagina Niken yang terlihat basah oleh sperma Bram. Sperma Bram nampaknya cukup banyak sampai meleleh di meja di sela-sela bongkahan pantat Niken yang padat kenyal.
    “Mmm.. maaf Pak,” kataku tergagap, namun aku melihat Niken tidak bereaksi dan masih merem melek oleh permainan jari Bram di vaginannya.
    “Pras, ayo bantu aku puasin Niken, aku udah lumayan capek \ Pras,” kata Bram datar dan tidak aku perkirakan sebelumnya.
    Melihat pemandangan sedap itu penisku tegang seketika dan berereksi maksimal dan membayangkan bagaimana kalau vagina sempit itu aku jejali dengan penisku sepanjang 16,5 cm dengan diameter 4 cm.
    “Jangan bengong, tunggu apa lagi!” teriak Bram.
    Aku menghampiri mereka berdua dan sedikit takut juga pada Bram meski sebelumnya aku pernah threesome waktu kuliah dulu dengan teman-temanku. Akan tetapi yang aku hadapi ini situasinya lain, karena dia adalah Boss-ku dan sekretarisnya.
    Niken menatapku penuh harap dan dari mimiknya aku tahu dia sangat mengharapkan permainan seksnya, tidak ada pada satu pihak dan kesimpulanku Niken belum menggapai orgasmenya. Aku menghampiri Niken dari sisi meja lainnya kemudian aku kecup mesra sekali bibirnya sambil kubelai lembut rambutnya. Kami bercumbu lama sekali dan di sela-selanya kadang Niken mendesah oleh permainan jari Bram, rasanya tidak menarik lagi baginya.
    “Emmhhh.. Prasshh…” desah Niken yang tampak semakin gelisah menggapai orgasmenya yang gagal bersama Bram.
    Aku maklum, memang seusia Bram itu nafsu kuda tenaga ayam karena usia. Tangan Niken mulai menggapai zipper lantas dengan cepat Niken mengeluarkan isi celanaku yaitu batang pejal yang hangat.
    “Prasshh… aaakhh…” Niken menggapai-gapai kepalaku untuk segera menghisap putingnya, sementara tangan kirinya mengocok dengan lembut penis kesayanganku.
    “Pras.. ayooo!” rengek Niken, namun aku melirik ke arah Boss-ku yang tampak seperti anak kecil di tetek ibunya.
    Tampak olehku penis Bram lucu bentuknya, kecil sekali, pantas saja Niken masih terangsang.
    Bram memberiku isyarat agar aku segera melakukan permintaan Niken, lalu aku pelorotkan sedikit celanaku. Aku kemudian berjalan ke sisi lain meja dan mengatur posisi untuk segera melakukan penetrasi ke vagina Niken.
    “Aoohh mmpphh… aaaghh…” Niken menggumam ketika setengah penisku dengan mudah membongkar rongga rahimnya yang licin oleh sisa sperma Bram.
    “Ahhggh ssshhh.. aaaghkkk…” Niken tampak meringis ketika aku membenamkan seluruh batang penisku ke vaginanya dan terasa olehku ujung penisku mendesak rahim atasnya.
    Aku diamkan sesaat lamanya penisku tenggelam dalam rahimnya dan menikmati kehangatan yang terpancar dari genital kami masing-masing. Kemudian aku kocok penisku perlahan dan lembut agar kehangatan dan kasarnya lebih terasa bergesek dengan bibir vaginannya. Niken tampaknya suka dengan apa yang kulakukan, terlebih saat Bram mulai memainkan bukit indah di dadanya dimana putingnya masih nature dan kenyal.
    “Aaahgghh… ssshhh… sshhh… aagghhh…” Niken mulai menggelinjang lembut menyambut apa yang ia harapkan. “Prasssh… aagghh.. kuu… agghh… aaakkhh…” sampai juga Niken pada momen yang diharapkannya. Akan tetapi Niken masih menguasai orgasmenya, sehingga ia tidak larut dalam kenikmatan pertamanya.
    Aku memberinya waktu untuk beristirahat, dan ketika aku hendak mengambilkan air mineral, buru-buru Bram mencegahnya dan ia memberiku isyarat agar tetap di dekat Niken, kali ini Bram yang melayani kami.
    Setelah itu ia ke bathtub dan berendam air hangat di sana. Aku mengambil tissue di meja Bram dan aku sapukan lembut di bibir vagina Niken yang basah oleh cairannya sendiri dan sisa-sisa terakhir sperma Bram. Aku jongkok di sisi meja, lalu aku buka lebar-lebar kedua kaki Niken, nampaklah kini bongkahan daging kemerahan yang rambutnya tercukur habis lagi bersih. Kutempelkan bibirku di bibir vaginanya untuk melakukan oral seks, dan ketika aku buka bibir vaginanya dengan telunjuk dan jari tengahku terciumlah bau harum yang khas dari Niken.
    Aku menjilat dari pangkal anus Niken sampai sisi vagina bagian depan begitu berulang-ulang dan aku sela dengan gelitik ujung lidahku di mulut vaginanya.
    “Ooogghhk.. aaagghhmm.. punnhh.. aaahh… Prassstth… aaaghh…” Niken melonjak-lonjak, pinggulnya goyang kiri-kanan di atas meja berlapis kaca. Bokong Niken leluasa bergerak karena sperma Bram dan mani Niken sendiri bercampur meleleh di permukaan kaca meja tersebut.
    Setelah agak lama oral seks terhadap Niken aku lalu berdiri dan melepas semua pakaianku yang sedari tadi belum sempat terlepas. Niken membuka lebar-lebar kedua pahanya dan memegangi kedua tungkainya, matanya terpejam menyambut sensasi yang segera ia rasakan. Kedua bibirnya yang seksi itu ia buka memancing birahiku untuk segera menyetubuhinya.
    Aku remas sendiri penisku dan semakin mengeras dan panjang saja di hadapan Niken, kemudian perlahan aku tempelkan di mulut vagina Niken. Tepat saat Niken menyibakkan rambutnya aku hujamkan pelan memasuki rongga rahimnya.
    “Prassshh… aaaooookkh mmmphh… mmpfff…” gumam Niken.
    “Mmmpphh… puaskan aku yach sayang…” rengek Niken manja.
    “Slerphh…” 16,5 cm penisku kembali menjejali rahim Niken.
    Aku membiarkannya diam terbenam di rahim Niken sambil memainkan otot- otot penisku untuk memberi rasa geli pada Niken.
    “Prasshhh… ooaaakhh… aakhhh… mmpphhh.. nikmat sekali, pintar kamu Pras…” puji Niken.
    “Mau yang lebih nikmat say..?” tanyaku.
    “Mpphhh…” Niken hanya memejamkan matanya menyambut apa yang akan aku lakukan atas vaginanya.
    Pelan namun pasti aku mulai mengocok lagi lubang rahimnya yang masih perat dan sempit itu.
    “Aaaghh… aaghhh… ssshhh mmfffh… terusshh… aaannggghh…” ceracau Niken.
    Aku sedikit menarik dadaku agar tubuhku tegap berdiri dengan begitu kepala penisku akan dengan mudah menyentuh G-spot-nya.
    “Aaakkhhh.. yacchhh.. yaahh… mmpphhh… aaanggghhh yaahhh,” Niken semakin tenggelam dalam irama birahinya. Ia meremas sendiri kedua payudaranya dan kadang putingnya ia tarik sambil dipilin-dilepas lagi dan diulangi lagi berulang sehingga ia sendiri semakin tenggelam dalam ritme yang mengasyikkan ini.
    “Aaaghkku.. agh ahhk… aaahh… aahh.. aamphh…” Niken melepas kedua tangannya dari dadanya dan berpegangan erat pada kedua sisi meja.
    Kepalanya oleng seperti orang kesurupan lalu dadanya ia busungkan, pinggulnya bergelinjang penuh dengan gairah birahi yang mendalam. Kami semakin jauh tenggelam dalam irama permainan ini dan tak menghiraukan lagi Bram yang dengan santainya menyaksikan permainan panas kami. Namun ketika Niken mulai tak dapat menguasai dirinya tampaknya Bram horny juga karena aku melihat tangan kanannya terlihat mengocok penisnya sendiri dan yang
    kiri memegang segelas Sampanye.
    “Nikeenn.. aak… aahhh…” aku tak sanggup menahan laju spermaku dan bersamaan itu pula.
    “Prassshhh.. aaakh… aaaghhh…” Niken menjerit dan memegang erat kedua sisi meja, pinggulnya ia hentakkan kencang-
    kencang dan dikombinasikan dengan goyangannya. Apa yang Niken lakukan membuatku semakin tak tahan, dan sedetik kemudian aku memancarkan maniku banyak sekali.
    “Aaagghh…” desahku keras. Rupanya denyutan penisku saat maniku memancar menyebabkan Niken kegelian dan buru-buru ia bangun lalu mendekapku erat-erat.
    Kami berdekapan mesra sampai tetes maniku terakhir aku rasakan. Sekejap aku melihat wajah Bram terlihat tegang dan kedua giginya terkatup rapat, sementara tangan kanannya terlihat semakin cepat mengocok penisnya dan tiga detik kemudian ia terlihat puas melempar senyum ke kami.
    “Hem.. udah puas Nik?” suara Bram itu mengagetkan kami. Niken menoleh ke arah Bram di bathtub lalu menganggukkan kepalanya, lalu kami french kiss lama bak sepasang kekasih.
    “Terima kasih Pras, entar malem pasti lebih hot,” bisik Niken.
    “Ha..” aku terkejut.
    “Udah ach entar tau sendiri,” bisik Niken.
    “Hayoo… rencana busuk apa itu kok bisik-bisik?” tanya Bram berkelakar.
    Niken tersenyum kecut lalu menyusul Bram ke bathtub. Setelah merapikan pakaianku, aku kembali ke ruanganku lalu mandi dan aku teridur di kursi kerjaku. Singkat dan tak kuduga sebelumnya percintaanku dengan Niken namun masih terasa gigitannya itulah kesimpulanku saat bercinta dengan Niken di ruang Bram.
    Tak terasa sudah jam lima sore saat aku terjaga namun kulihat ruangan Bram tertutup rapat, khawatir janji dengan Sofi molor maka pintu aku ketuk pelan dan kudengar suara Niken mempersilakan aku masuk.
    “Masuk Pras!” suara Niken mempersilakan aku masuk.
    “Mana Pak Bram?” tanyaku saat melihat Niken.
    “Sedang keluar,” kata Niken setengah mendesah.
    “Kenapa..?” aku membalasnya dengan setengah berbisik di belakang telinga Niken.
    “Masih terasa mengganjal di sini Mas..” Niken menunjuk ke selangkangannya yang ia buka melebar.
    “Punya Mas besar dan panjang sich dan pokoknya mmmpphhh…” imbuh Niken seraya mengusap-usap vaginanya sendiri dan membuat gerakan bak disetubuhi.
    “Akh udah ah, entar ketahuan Bram lho,” kataku sambil membimbing Niken berdiri.
    Kemudian kami bersiap menyambut Sofi dan Bram yang akan menjemput kami petang ini. Kami duduk di lantai atas kantor kami sambil minum ginseng yang dibelikan oleh security kami. Tampak di luar masih terlihat kesibukan pelabuhan yang tak pernah akan berhenti, kami pun terlibat obrolan santai. Akhirnya aku tahu bahwa Niken menolak kalau dituduh simpanan Bram dan yang ia lakukan hanyalah demi uang dan karir. Ia mau berbuat begitu karena dikhianati oleh pacar yang amat disayanginya yang tega menghamili gadis lain. Dari Niken juga aku tahu bahwa Bram itu orangnya “Edi Tansil” alias Ejakulasi Dini Tanpa Hasil.
    “Baru diisep dua kali aja sudah ngecritt.. alias maninya muncrat,” kata Niken pada suatu kesempatan. Kasihan benar kamu Niken, bisikku dalam hati. Lalu aku menarik nafas dalam-dalam.
    “Oh iya Niken, apa maksud kamu tadi itu?” selidikku.
    “Yang mana?” tanya Niken lupa.
    “Itu lho, katanya nanti malem akan lebih hot!” sahutku. Niken termenung sesaat.
    “Sebetulnya ini rahasia dari Bram, cuma karena tadi aku sangat puas dengan permainan Mas Pras akhirnya aku kelepasan ngomong,” jelas Niken.
    “Begini Mas Pras, sebetulnya Bram sudah tahu kalau Sofi akan memberikan bonus dalam rangka aplikasi asuransi kemarin,” imbuh Niken.
    “Terus…” tanyaku penasaran.
    Niken sepertinya keberatan, lantas terdiam lalu berdiri dan meghisap dalam-dalam filter kesukaannya. Matanya menerawang jauh ke laut lepas seolah ingin menumpahkan semua beban hidupnya di sana.
    “Nik..! kamu baik-baik saja kan?” aku bertanya pada Niken dan menghampirinya lalu kudekap Niken di samping kiriku.
    “Nggak! nggak apa-apa kok Mas,” tukas Niken membalikkan badannya menghadapku.
    “Tapi wajah kamu kok keruh begitu..?” aku mencoba agar dia mau curhat padaku.
    “Mas Pras! tapi ini sangat rahasia, jadi tolong simpan untuk Mas Pras saja,” pinta Niken.
    Aku tidak berkata sepatah katapun karena aku rasa Niken sudah percaya kepadaku.
    “Begini Mas…!” Niken mulai curhatnya kepadaku panjang lebar yang intinya sikap Bram yang mulai terlihat mencampakkan Niken seperti baru saja terjadi antara aku, Niken dan Bram dimana Bram mengijinkan Niken aku setubuhi.
    “Habis manis sepah dibuang,” kata Niken penuh kekesalan.
    “Niken! dunia ini tidak hanya milik Bram atau milik kamu ataupun milik aku saja, tetapi dunia ini luas,” hiburku.
    Secara jujur aku akui bahwa akhir-akhir ini aku juga merasa kesal dengan Bram yang semakin otoriter saja dan ini bertentangan dengan pribadiku.
    “Sebenarnya aku sudah punya perusahaan sendiri yang aku percayakan pada salah seorang sahabatku.
    Sekarang masih tahap trial running dan membutuhkan accounting officer, kebetulan Niken kan background-nya accounting punya dan kala Niken bersedia Niken boleh berkarir di sana,” kucoba memberi Niken alternatif yang baik.
    “Tapi…” Niken tampaknya ragu namun segera aku yakinkan.
    “Nik! apakah aku seperi Bram dan… emhh, entah apa yang terjadi tadi tiba-tiba aku tak sanggup menolaknya?” kutatap matanya dalam-dalam untuk meyakinkannya, lalu aku yakinkan lagi dengan sebuah kecupan mesra di dahinya.
    “Aku tahu dan maklum kepada Mas Pras sebagai lelaki muda dan…” Niken berhenti bicara sejenak seperti berpikir sesuatu.
    “Dan jantan…” tukas Niken dengan senyum manisnya yang merebak membuat wajahnya kembali bersinar.
    Niken menghisap dalam-dalam kretek filternya mild-nya, lalu mencampakkan puntungnya ke vas bunga dekat jendela.
    “Mas, acara nanti malam adalah rencana Bram agar dapat berkencan dengan si Sofi dan Yeni bersama kita,” jelas Niken.
    “Bersama kita…” aku terheran.
    “Yach fivesome lah… dan sudah jadi rahasia umun kan ada beberapa jasa semacam itu yang memberikan bonus service yang hot,” kata Niken datar.
    “Tapi Mas Pras nggak usah kuwatir, aku akan melampiaskan semua kekesalanku atas Bram pada Mas Pras, so siap-siap saja yach,” ancam Niken dengan senyumnya yang seksi yang semakin membuat hatiku
    berbunga.
    “Dan Mas Pras akan jadi raja malam ini,” ejek Niken.
    “Gila kali…” kataku pelan dan tiba-tiba saja HP-ku berdering.
    “Yes Boss…” jawabku pada Bram.
    “Aku sampai di Gajah Mada nich, jadi siap-siap saja, sekali celup masih bisa kok Pras,” kelakar Bram.
    Aku tidak merespon kalimat terakhir Bram tadi hingga Bram menutup pembicaraan kami.
    “Oh iya, kalian langsung saja ke Kopeng (Bram menyebut nama salah satu wisma), kita ketemu di sana,” ajak Bram.
    “Ok, Niken ayo kita bersiap.” Aku menggandeng Niken menuruni tangga kantor kami menuju Kijang kesukaanku.
    Dalam perjalanan ke Salatiga aku mempersilakan Niken untuk istirahat agar badannya kembali bugar. 1 jam perjalanan aku dan Niken tiba di wisma yang dimaksud oleh Bram, Niken masih tampak terlelap, aku mencoba membangunkannya dengan cara mengecup lembut bibirnya.
    “Mpphhh.. udah nyampai yach…” Niken mulai tersadar dari tidurnya.
    Wisma itu besar sekali dan terletak agak jauh dari jalan raya Salatiga-Magelang, mempunyai 4 kamar sekelas president suite. Melihat bangunannya ini termasuk bangunan baru namun ber-arsitek mirip bangunan lama. Bram sudah sampai duluan bersama Sofi dan Yeni yang nampak mesra di kiri dan kanan Bram di koridor depan. Melihat kedatangan kami Sofi lalu berdiri dan menyambut kedatangan aku dan Niken.
    “Have a hot party,” katanya sambil mengerlingkan nakal matanya.
    “Ayo kita santap malam!” ajak Sofi ke ruag tengah.
    Ruangan tengah berhias lampu kristal mahal dan interiornya tertata rapi berhampar permadani merah menambah hangatnya suasana meski udara di sana terasa menggigit sampai ke tulang. Kami lantas makan bersama dan dilanjutkan berenang di warm water pool dan setelah itu acara jalan-jalan sekitar wisma itu menghirup udara segar pegunungan bercampur aroma sayuran khas pegunungan.
    “Nich room service-nya, bila perlu apa-apa tekan saja extention 9 untuk room service atau membutuhkan sesuatu,” kata Sofi ketika kami melewati sebuah bangunan saat kembali ke wisma.
    Kami duduk-duduk di ruang depan, sementara Sofi sibuk dengan mempersiapkan ruangan tengah. Niken sedari tadi bergelayut manja padaku tampak acuh dengan Bram di depan kami yang merangkul mesra Yeni. Tampak sesekali Bram
    mencium bibir Yeni bahkan terang-terangan meremas selangkangan Yeni di depan Niken, Yeni sendiri rupanya juga sudah
    “on” berat tak memperdulikan sekitarnya.
    “Ternyata brengsek juga si Bram ini, tidak peduli perasaan Niken,” makiku dalam hati.
    Semakin lama sikap Bram semakin cuek saja, akhirnya aku menarik Niken untuk ke teras samping yang menghadap ke kebun sayuran. Kami berbicang ringan di sana tentang sejuknya dan betapa indahnya alam ini kira-kira setengah jam kami habiskan waktu untuk ngobrol. Aku dan Niken lalu masuk kembali ke ruangan semula dan aku amati wajah Yeni semakin kelihatan horny sekali, demikian juga Bram, namun mereka (Bram dan Yeni) tak dapat memulai sendiri pestanya harus bersama-sama. Wajah Yeni tidak begitu cantik namun bodinya yahut banget, dadanya membusung, tubuhnya putih mulus terawat, tungkainya lancir berkombinasi dengan pantatnya yang bulat padat menandakan bahwa power sex-nya pastilah meletup-letup dan aku yakin Bram hanya sekali goyang sudah kelojotan.
    Diam-diam aku lebih bergairah jika melihat Yeni dari pada Sofi, apalagi melihat dahinya yang sedikit nonong tentu bongkahan selangkangannya juga tebal dan luas. Perfectly, bathinku. Darah lelakiku semakin berdesir kencang. Sofi sendiri orangnya montok berisi tapi tidak dapat dikatakan gemuk, tepatnya adalah semok alias seksi dan montok, kulitnya kuning dan rambutnya pendek sebahu.
    Pukul 19.00 Sofi mempersilakan kami untuk memasuki arena dan perlahan tirai penutup koridor sutera merah itu tertutup demikian pula untuk tirai jendela lainnya dan tiba-tiba ruangan berubah menjadi hangat. “Inilah bonus itu Mas Pras,” bisik Niken di sela-sela langkah kami ke ruang tengah. Benar-benar bonus yang hebat dan aku tidak pernah habis pikir akan hal ini, lantai ruangan tengah yang tadi beralaskan karpet merah kini berlapis kain satin lembut, entah apa maksud dari interior ini, aku masih bertanya dalam hati.
    Kami sudah di balik tirai itu dan berada di ruang tengah namun Sofi menjelaskan aturan mainnya yaitu semua peserta harus melepas pakaian yang ada di tubuh kami masing-masing dan bagi yang wanita silakan dandan secantik-cantiknya di washroom yang tersedia, dan bagi laki-laki dipersilakan mengambil suplemen penyegar tubuh agar tetap fit.
    Aku melihat tampak ada beberapa jenis dan aneka warna vibrator yang tersedia bagian pinggir sisi meja lain yang membuat pesta ini kelihatan lebih lengkap. Sofi bak seorang guide professional memberi petunjuk kepada yang lain dan aku akhirnya bisa menebak bahwa sebentar lagi akan ada nude party. Aku terperangah ketika melihat Niken baru saja keluar dari washroom, diikuti Yeni, kemudian Sofi, wajah ketiganya anggun berhias bibir sensual yang merah menantang dan masing-masing punya kelebihan, si cantik yaitu Niken, si hyperseks yaitu Yeni, dan si semok Sofi. Bau harum lebih menyeruak ke ruangan, dan aku melihat Bram jakunnya semakin cepat naik-turun pertanda birahinya sudah di ubun-ubun.
    Sofi dan Yeni menghampiri Bram, sementara Niken mendekat ke arahku, aku melihat Bram bergelayut mesra di dada Yeni karena Bram orangnya agak pendek sedangkan Yeni memakai sepatu hak tinggi. Aku dan Niken tersenyum geli saat Bram menyusu Yeni sambil berjalan ke arah meja ke ruangan itu karena kelihatan lucu. Musik mengalun lembut menambah
    hangat suasana pesta ini dan aku semakin tenggelam dalam rengkuhan bibir Niken. Di setiap sudut ruangan ada monitor 29 inchi menampilkan film seks sehingga menambah panas suasana pesta ini.
    Udara pun tak lagi terasa dingin justru semakin terasa amat panas oleh cepatnya aliran darah kami masing masing. Aku dan Niken mengambil segelas sampanye lalu saling suap sambil berdansa mesra, saling dekap saling cumbu dan saling pagut. Tubuh kami seimbang karena Niken menggunakan sepatu berhak tinggi sehingga pinggul kami pun tepat bersentuhan. Kedua telor penisku terasa mengusap lembut bibir luar vagina Niken membuat kami kadang merinding kegelian bercampur nikmat.
    Bram yang sedari tadi tampak sudah tak tahan ingin segera menyetubuhi Yeni meminta Yeni mengambilkan buah anggur hijau di tengah meja. Karena letak buah anggur itu di tengah meja maka praktis Yeni harus menungging saat mengambilnya. Namun bukanlah Bram kalau tidak berbuat begitu, karena begitu Yeni terlihat mengangkat tumitnya maka merekahlah vagina Yeni lalu buru-buru Bram jongkok dan mencumbui vagina Yeni dari arah belakang.
    “Aaaghhh…” Yeni tampak kaget namun menikmatinya dan acara “mengambil anggur” itupun berubah menjadi acara “jilat kacang”.
    Yeni memang pandai memasang umpan atas Bram, dia menikmati jilatan demi jilatan Bram dengan desahannya. Bram memang banyak makan garam, karena dengan permainan lidah Bram, Yeni semakin mendesah hebat dan diikuti lenguhan-lenguhan nikmat. Bram menjilat dari lubang anus yang sedikit memerah ke depan menuju bibir sampai sudut bibir vagina bagian depan kemudian berhenti memainkan ujung lidahnya di klitoris Yeni.
    “Aaaoohh sshhh.. oohhss hhh.. oohh.. ssshhh.. aagg… oohhghh,” Yeni rupanya mendekati orgasmenya.
    Sofi kemudian mendekati Yeni dan jongkok di antara Yeni dan meja, dan dengan sigap sudah terlihat memainkan buah dada Yeni bagian kiri dan yang kanan ia hisap dalam-dalam. Tangan Bram mulai menggapai meraba-raba punggung bagian atas kemudian ke bawah berulang-ulang. Yeni terperangah nikmat apalagi Bram kini mulai menusukkan dua jari tangannya ke vaginanya. Dengan cepat Yeni tak mampu menahan sensasi itu, lalu Yeni pun melenguh panjang, wajahnya mendongak meregang orgasmenya.
    “Aaoughh mmpphhh.. aaahkk.. aahhk.. aampphh.. sshitthhogghhh.. sshhh…” ceracau Yeni, matanya mendelik kemudian terpejam, pinggulnya ia putar-putar mengikuti irama lidah Bram.
    Demikian pula pantatnya dihetakkan lembut seirama tusukan jari Bram yang semakin cepat temponya dan tak teratur.
    “Aaooghh.. aaashh sshhh… mmmpphh… aaahhggh,” Yeni melenguh menikmati detik-detik terakhir orgasmenya.
    Yeni kemudian menyibakkan rambutnya dan membimbing Sofi untuk duduk di meja, lantas dengan sigap Sofi segera membuka lebar-lebar sudut kakinya. Yeni mulai memainkan ujung lidahnya belahan vagina Sofi.
    “Oogghh.. Yenn… ssshhh… aahh mmpphh… hangat Yennhh…” gumam Sofi. Sekembali Bram dari minum ia lalu menghampiri Sofi dan terlihat mencumbui Sofi dengan lembut.
    “Oogghh.. Mas… Brammh… aakhkh… mmpphff…” mulut Sofi tersumpal oleh bibir Bram.Sofi melenguh, kadang mendesah manja, membuat aku dan Niken semakin terhanyut oleh birahi.
    “Nikhh.. aaku masukin yach…” bisikku di telinga Niken lantas memainkan belakang telinganya.
    “Hem.. aaoghhh.. gelli.. Mass…” desah Niken. Aku sedikit membungkuk lalu tanpa diperintah Niken membantu membimbing penisku memasuki vaginanya.
    “Aahhghh.. hangat.. mpphh…” hawa hangat mulai menjalar ke tubuh Niken dari selangkangannya mengalir ke seluruh bagian tubuh.
    Rasa pejal dan hangat mulai merambah ke wajah Niken yang kini mulai kelihatan memerah, di lain bagian aku rasakan bukit vaginanya semakin menyembul karena tersumbal oleh penisku. Aku mulai mengocoknya perlahan seirama musik lembut, sesekali Niken menjauhkan tubuhnya dari aku untuk lebih menancapkan gigitan vaginanya yang semakin hangat kurasa.
    Sofi sudah mulai mendekati detik orgasmenya dan bersamaan itu pula,
    “Ngghh… aaampphh… aaakkhh.. ogghhh… Mas.. Prasshh… aakk… ooh.. aaaghhh…” Niken menggelinjang hebat dalam rengkuhanku, kedua kakinya menegang hebat menahan tubuhnya yang bergetar. Aku kemudian menarik sedikit pinggulnya ke bawah sehingga kedua pahanya kini lebih terbuka lebar dengan demikian aku punya kesempatan untuk menanamkan dalam-dalam secara keseluruhan penisku yang panjang.
    “Aaghkk… ohhh mpmpp.. sshhh.. aaghhh.. aaghhh… sshhh..” Niken menggapai orgasmenya, sangat sensasional tubuhnya memeluk hangat tubuhku. Aku merasakan cairan hangat menyiram penisku yang masih tetap berdenyut, lalu kami kembali pada irama dansa, sementara penisku masih menancap di rahim Niken. Aku melihat di dekat meja telah berganti posisi, dan Sofi memegang vibrator nyala memainkannya di vagina Niken terduduk di meja dengan satu kaki ia angkat dan satu kakinya bertumpu di lantai. Dari belakang Sofi, Bram mengocokkan pensinya di vagina Sofi namun kelihatan ironis karena vagina Sofi yang gemuk dan tebal itu beradu dengan penis kecil nyaris tidak kelihatan. Aku sempat melirik Bram saat memasukkan penisnya ke vagina Sofi yang nampak tergopoh-gopoh dan begiitu masuk seluruhnya Bram mendesah.
    “Oohhgghh… hangat Soff…” desah Bram.
    Sofi mulai menggoyang pinggulnya dengan teratur, memutar, sesekali menghentak ke arah pangkal penis Bram. Bram kulihat kelojotan mendapat serangan Sofi, begitu pula Yeni yang mulai mendesah kepedasan oleh sensasi vibrator yang kini ia mainkan sendiri. Sofi tenggelam dalam alunan birahinya lantas menggoyang cepat dan tak teratur membuat Bram semakin bergetar dan
    “Aooghhh.. mmpphh… aakk.. keell…” teriak Bram menyambut semburan spermanya.
    “Ttt… tungguu… aahkkkuu.. aaaooghhh.. aaooghg.. aammpphh asshhh aahh.. shhh…” Bersamaan itu pula sofi tegang dan sedetik kemudian tubuhnya bergetar.
    Bersama itu pula penisku semakin berdenyut-denyut karena gairahku dan hal ini menambah gelitik di vagina Niken, lalu Niken pun tenggelam dalam orgasme yang berikut. Bram dan Sofi kemudian berpelukan dan berpagutan mesra berjalan menuju sofa di salah satu sudut ruangan. Lain halnya dengan Yeni yang kelihatan putus sudah jenuh dengan permainan vibratornya, kemudian mendekati aku dan Niken.
    Yeni mendekapku mesra dari belakang vaginanya yang memang masih menyembul karena birahinya ia gesekkan sendiri ke pantatku. Kenikmatan yang aku rasakan kali ini betul-betul nikmat, aku berdansa dengan dua bidadari dan keduanya mendekapku dengan mesra. Penisku pun kurasa semakin berdenyut tak teratur menandakan aku segera
    memancarkan sperma. Namun karena Niken sedikit capai setelah dua kali orgasme ia membimbingku menuju dekat meja.
    “Plopphh..” suara penisku saat lepas dari gigitan vagina Niken. Niken melenguh lalu duduk di sisi meja untuk mengambil sampanye lalu memberi isyarat agar aku meneruskan permainanku. Aku rebahkan Yeni di shatin putih, kedua pahanya aku buka lebar-lebar dan semakin merekahlah vagina Yeni. Tak aku sia-siakan kesempatan ini untuk mengecup, mencumbu dan menjilat vagina Yeni yang masih bersih (beruntung Bram menyetubuhi Sofi dulu).
    “Aahghhh.. aapap mmhhh.. appmmhh… aaakkhh.. sshh,” Yeni mendesah, tangannya meremas dan memilin putingnya.
    Niken tanggap akan hal ini lalu mendekati Yeni dan meletakkan kepala Yeni di pahanya, kemudian Niken memainkan puting Yeni dengan mulutnya. Rabaan dan remasan tangan Niken membuat Yeni semakin bergelinjang hebat dan mempercepat orgasme Yeni yang sedari tadi tersendat.
    “Aaagghhh… oooghhh.. oopppmmhhh… sshhh… shiitt hhh… aaahhkkk…” Yeni
    mengawali orgasmenya dengan lengkingan panjang.
    Berikutnya Yeni semakin bergelinjang dalam lenguhan-lenguhan panjangnya, tubuhnya hangat tersumbal oleh penisku sementara di bagian lain Niken menambah sensasi di putingnya.
    “Aaaghhkk.. kkuu.. mmppphhh… maauuh… aaghhh…” Orgasme berikutnya menyusul, apalagi setelah penisku kudorong lebih dalam lagi membuat Yeni histeris.
    Tubuh Yeni masih bergelinjang, pinggulnya ia putar goyang dengan irama tak teratur semakin cepat dan semakin cepat, lalu aku rasakan spermaku sudah berkumpul di ujung penis menyebabkan penisku semakin mengeras. Semakin pejal dirasakan oleh Yeni dan Yeni kembali menggapai orgasmenya yang serasa tiada akhir.
    “Yennhh.. aakuu…” desahku ketika hendak menggapai ejakulasiku. Yeni bangkit dan melepas gigitan vaginanya, buru-buru ia meraih penisku dan sekejap sudah tertelan dalam mulut seksi Yeni. Kocokan tangan berkombinasi dengan sedotan kadang permainan lidah Yeni membuatku bergetar hebat dan aku kini yang berdiri pada kedua lututku terasa ingin berdiri dan melepas semua sperma yang ada di kantong spermaku.
    “Uughhh.. shhh… Yennh… oookhhh… hisapphhh… ooghh…” ceracauku saat menjelang ejakulasiku.
    “Sssrrr… rotth.. crothh… crothhh…” entah berapa semprotan maniku menyembur di mulut Yeni.
    “Agghhh…. aampphhh.. oogghhh… hh… mmppphh…” aku masih menikmati sisa-sisa orgasme.
    “Ooghhh.. udahh… aaahhh…” pintaku pada Yeni ketika menjilat habis sisa-sisa sperma yang meleleh dari lubang kencingku.
    Lega rasanya semua birahiku tersalurkan setelah sekian lama menyumbat. Malam semakin larut lalu kami beristirahat setelah menghabiskan minuman yang ada. Bram lalu menuju ke kamar dan meminta Niken melayaninya di sana, lalu aku menyusulnya, sementara Sofi dan Yeni ke washroom untuk bersih-bersih. Niken menggapai orgasmenya saat aku dan Bram menyetubuhinya, karena penis Bram kecil maka aku sarankan ia melakukan lewat anus Niken sementara penisku yang panjang aku hujamkan dalam-dalam ke rahim Niken. Niken bergelinjang hebat oleh karena permainanku dan Bram. Bram kemudian tertidur karena kecapaian ditemani oleh Sofi. Aku sendiri mengajak Yeni dan Niken ke kamar lainnya dan menghabiskan malam panjang sampai spermaku terasa betul-betul terasa kering sudah dan akhirnya aku tertidur dalam
    pelukan dua bidadari.
    Kami terbangun hampir bersamaan ketika matahari sudah tinggi lalu menuju kolam renang dan berendam di sana sambil sarapan pagi. Sore hari kami baru kembali ke Semarang dengan membawa bonus yang tak terlupakan.

    Cerita Sex: Tia Yang Haus Seks –

     – Cerita Sex: Tia Yang Haus Seks – Namaku adalah wawan, berumur 23 tahun, aku mempunyai tubuh yang atletis sehingga banyak cewe yang ingin jadi pacarku, namun aku belum mau terikat sama pacar, aku masih mau bebas menikmati masa muda…statusku adalah mahasiswa disalah-satu PTN dikotaku.
    cerita-sex-tia-yang-haus-seks
    Hari ini adalah hari senin, jadwal kampusku padat sekali sehingga pagi-pagi aku sudah bangun dan bersiap untuk kekampus, o-i-a aku tinggal in the kost… tempat kost ku dilantai 1 sementara dilantai 2 adalah tempat kost cewek..
    Usai mandi aku langsung berpakaian kemudian ngopi sambil merokok. Ketika aku sedang nongkrong didepan kamarku turun seoarang laki-laki dari lantai 2, dia tidak menegurku dan langsung lewat didepanku begitu saja..dalam hatiku berkata sombong banget nih cowo..pasti habis ambil jatah ama tia…
    Yang lewat tadi adalah pacarnya tia, cewek yang ngekost diatas..tia memang cantik..tinggi, putih mulus dan bodynya padat..pagi itu aku gue langsung konak ingat tia, sempat terlintas untuk ML dengannya.
    Sesampainya di kampus Erik langsung menghampiriku, erik adalah teman seperjuanganku, biasa dalam hal berburu kenikmatan sesaat,
    wan, gimana kalau ntar malam kita berburu lagi, udah lama nih nggak pernah diasah erik berkata sambil tersenyum,
    akh aku lagi ada proyek rik, nanti aja klu sdh selesai, baru kita berburu lagi, tempatnya terserah kamu deh balasku sambil berlalu..
    Sebenarnya aku masih kepikiran sama Tia…maka akupun menyusun rencana untuk ntar malam..

    Untuk diketahui sebenarnya keinginan untuk ML itu nggak muncul begitu saja, ini karena kejadian beberapa malam yang lalu, saat itu suasana tempat kost lagi sunyi, akupun iseng naik ke lantai dua untuk minjam buku, sesampainya di depan kamar tia, terdengar eluhan-eluhan nikmat…nalurikupun segera menuntun untuk melihat yang terjadi di dalam, kebetulan sedikit ada celah di balik kaca nako jendelanya..wah ternyata si Tia lagi dientot ama pacarnya sehingga niatku untuk meminjam buku tidak jadi.
    Malam harinya aku pun menyusun rencana……
    Malam itu kira-kira pukul 9 malam suasana di kostku lagi sepi, orang disamping kamarku lagi keluar cari tugas diwarnet. Aku pun berfikir inilah saatnya untuk bercinta sama tia..otakku sudah dditutupi oleh nafsu birahi yang tinggi..
    Akupun naik keatas kekamar tia, kebetulan kamarnya terbuka, kulihat tia sedang mengerjakan tugas, dia terlihat seksi menggunakan sarung bali dan tanktop.
    Hi..lagi ngapain nih tanyaku..
    biasa kerja tugas, kenapa wan lu mau minjam buku lagi..
    nggak..gue cuman bete dibawah kaga ada orang makanya gue naik..nggak mengganggu kan
    nggak kok, kebetulan nih gue lagi bikin tugas di corel, lu bantuin gue ya, lu kan jago corel..
    beres bos..jawabku mana yang lainnya kok sepi banget
    yeny ada tuh dikamarnya sama cowonya,, kayanya lagi asyik.. jawab tia sambil tersenyum
    eh gimana bikin lay out iklan yang baguswan, lu ajarin gue donk
    Akupun mengambil alih komputer sehingga tia kini duduk dibelakangku..
    Wan lu bikinin yang meriah iklannya ya. Kalo bisa ini warnanya lu rubah biar kontras sambil tia menujuk pada monitor sehingga toketnya menempel di punggungku..
    beres bos.. konsentrasi kupun hilang..yang ada hanya nafsu sementara senjataku sudah mulai tegang…akupun mulai merencanakan sesuatu..
    tia tutup donk pintunya dingin banget nih ntar gue sakit tipes lagi gara-gara batuin lu.
    Ga usah deh wan..ga enak masa kita berdua dalam kamar..lu kan bukan pacar gue..
    makanya lu jangan berfikiran kotor terus donk, masa lu ngga percaya ama gue, emangnya lu mau gue apain
    oke deh, tapi lu jangan macem-macem ya, just kerjain tugas gue tuh..
    Tia pun menutup pintu kamarnya, kemudian duduk kembali disampingku.
    Nyali ku agak ciut karena ternyata tia bukan cewe gampangan baru disuruh tutup pintu aja susah banget gimana kalo gue suruh buka baju bisa teriak nanti. Aku pun berencana mengurungkan niat ku karena takut kalo nanti tia teriak..
    Kukerjakan tugasnya sementara sesekali tia menunjuk monitar jika ada yang salah dan toketnya menempel dipunggungku..
    Waktu sudah pukul 10 malam nampaknya tia sudah mulai ngantuk di pun menyandarkan kepalanya dibahuku..
    pinjam bahu lu ya..leher gue pegel nih.. wan matiin lagunya udah malem nih.. akupun mematikan winamp dikomputer..
    suasana dikamar kini sangat hening namun tiba-tiba terdengar suara rintihan nikmat dari kamar sebelah, dan kami pun saling berpandangan..
    diapain tuh yeni ama pacarnya tanyaku pura-pura bego
    biasa…lu kaya kaga tau aja wan
    Akupun mulai konak sementara tia kambali bersandar dibahuku..
    Suara rintihan yeni semakin lama semakin terlihat nikmat dan tanpa kusadari nafas tia kini mulai tidak teratur..wah lagi konak nih cewe ini kesmpatan gue pikirku dalam hati..akupun bersiap-siap menunggu waktu yang tepat..kuperhatikan tia duduknya mulai gelisah..aku pun berbalik dan memegang tangannya dan langsung melumat bibirnya…tia tampak terkejut dan mendorongku namun langsung kudekap erat-erat tubuhnya sehingga dia tidak bisa bergerak..
    lu apa-apaan sih, dia pun mendorong tubuhku dengan kuat sehingga pelukan ku pun terlepas…
    sory tia…gue kelepasan…abiz gue konak dengar suara yeny dari sebelah…
    sory banget yaach aku pun memohon sama tia
    Tia pun pun hanya diam menatapku dan kemudian mengangguk..
    Oh..syukurlah tia mau maafin gue..gue takut dia melapor di ibu kost bisa diusir gue..
    lu tidur aja biar tugas lu gue yang selesaikan, gue janji ga bakal ngapa-ngapain lu..
    Tia masih terdiam nampaknya dia bingung harus ngapain…
    Akupun kembali mengerjakan tugasnya tia yang tinggal sedikit..
    10 menit kemudian tugasnya tia udah selesai..
    tugas lu udah selesai..gue turun ya..sory tadi gue khilaf banget..
    Aku pun berdiri dan keluar dari kamar..tiba-tiba tia memanggilku..
    wan thanks ya..sory tadi gue gu dorong lu terlalu keras..
    ga papa..gue cabut dulu ya..
    Aku pun kembali kekamar ku menahan konak..kemudian karena terlalu konak akupun onani dikamar dibantu koleksi film bokep ku dikomputer..setelah onani tiba-tiba hpku berbunyi tanda ada sms..teryata dari tia..akupun langsung baca isi sms itu.
    wan lu kekamar donk sekarang, ada yang mau gue kasih
    Wow pucuk dicinta ulam pun tiba pikirku dalam hati..ternyata tia juga konak nih..pasti dia mau ngajak gue ML.
    Akupun langsung naik kekamar tia ditangga aku berpapasan sama yeny dengan pacarnya. Kayanya pacarnya udah mau pulang, sampai didepan kamar tia kuketuk pintunya.
    masuk aja ga dikunci kok jawab tia dari dalam…
    Aku pun masuk kedalam dan kulihat tia sedang barbaring dikasurnya sementara sarung balinya agak terangkat sehingga pahanya yang putih terlihat…kututup pintu dan langsung ku cium bibirnya tia..dan tia mendorongku..
    eit sabar dulu donk..lu udah konak banget ya…sebenarnya tadi gue juga konak tapi gara-gara lu tiba tiba brutal gue jadi takut tau.. tapi lu janji jangan bilang siapa-siapa yah apalagi ama pacar gue
    beres sayang dan langsung kulumat bibirnya..tia pun membalas dengan memainkan lidahnya,,sesekali dia menghisap lidahku..kini tangan ku mulai memainkan toketnya, dan mulai menciumi lehernya
    sshhh..uhfff..terus wan..enak banget wan..
    Kumasukkan tangan ku kedalam tank tonktopnya dan ternyata dia sudah tidak pake bh..kuremas-remas kedua bukit kembarnya..tia nampak sangat menikmatinya..tangannya mengelus-elus kepalaku dan mulutnya mengeluarkan desahan desahan kenikmatan….
    Kini kulepaskan tanktop serta sarung balinya dan kini tia telah bugil karena dia juga sudah tidak mngenakan cd..
    Tia pun juga melepaskan baju dan celana pendek serta cd ku…
    wow gede banget punya lu wan ga muat nih masuk memek gue tia pun mengelus-ngelus kontholku.
    lebih gede mana konthol gue atau konthol pacar mu tia tanyaku
    konthol lu jauh lebih gede, tapi gue takut ntar memek gue jadi longgar, pokoknya ini yang pertama dan terakhir wan ya, soalnya gue kasian tadi liat lu udah konak banget, pasti bawaannya ga enak kan sementara tangannya tia masih mengelus-elus konthol ku, bisa longgar memek gue nih kalo tiap hari dimasukin rudal kaya gini
    oke deh gue ga bakal minta lagi tapi kalo ntar lu pengen lagi sms aja..
    Tia pun tersenyum dan langsung melumat bibir ku….aku pun membalas dengan hangat dan kumainkan klitorisnya dengan jari-jariku…
    Shhh…uhffff..
    Kini kujilat puting susunya yang berwarna pink..
    Shhh…oh..ouchhh enak banget wan terus wan gue ga tahan nih…
    Kini kepalaku turun kearah perutnya dan tangannya tia mendorong kepalaku supaya lebih turun ke bawah. Kuturunkan kepalaku arah vaginannya, jembut nya gondrong..kayanya ngga pernah dicukur namun vaginya sangat harum sehingga birahi ku tambah meningkat dan kumudian ku mainkan klitorisnya dengan lidahku…
    Ouh…uhff…..enak banget wan lidah lu enak banget..terusin wan puasin aku malam ini suara tia mulai meracau…
    Aku pun menegurnya
    jangan terlalu ribut ntar kedengeran ama anak2 disebelah…
    ga ada orang kok cuman yeny yang ada, yang lainnya lagi pada pulang kampung, biarin aja yeny dengar siapa suruh tadi juga ribut..
    lanjutin lagi wan lidah lu enak banget..
    Aku pun melanjutan memainkan klitorisnya tia dan jariku memainkan bibir vaginanya.. uhfff..enak banget nih wan gue ngga tahan ….
    Akupun semakin liar memainkan lidah ku kadang kumasukkan kedalam lubag vaginanya….tia pun kadang menjambak rambut ku menahan nikmat..
    wan gue ga tahan nih gue meu keluar….terus wan ouhhh…..gue sampe wan….uhffffff
    cairan kenikmatan keluar dari lubang vaginanya dan aku pu terus menjilatnya sampai bersih…
    Gila kamu wan ternyata lu hebat banget…bisa ketagihan gue…
    Akun pun maju kedepan sehingga konthol ku kini berada didepan bibirnya..
    ogah ah wan..gue ga mau isep konthol lu..konthol pacar gue aja ga pernah gue isep…gue jijik
    Namun aku tidak memperdulikkannya karena birahiku sudah memuncak..kutarik kepalanya sehingga konthol ku kini menempel dibibirnya..kupaksa masuk sehingga mulutnya tia kini mulai terbuka. Kudorong pelan pelan dan nampaknya kini tia mulai menikmatinya dia membuka mulutnya sehingga kotolku masuk setengah..
    Tia pun mengulumnya. mulutnya memompa konthol ku…
    Ouhhh nikmat banget tia,…terusin isep yang kuat konthol gue….
    tia pun melepaskan kontholku dan menuruhku berbaring…
    lu baring aja wan biar gue isep, ternyata konthollu enak banget
    Kini tia asik mengulum kontholku dengan ganasnya dan tangannya memainkan biji pelirku..
    ouhh..tia enak banget sayang….terus…kocok terus konthol gue pake mulut lu…
    Lagi asik tia mengulum kontholku tiba-tiba pintu kamar dibuka…
    Kamipun terkejut..ternyata yeny…
    Gue boleh ikutan ngga gua konak banget nih denger suara lu tia…pacar gue udah pulang tapi gue ngga puas abis dia cepet banget keluar…
    gabung aja, wawan juga kayanya kuat kok muasin kita berdua..kunci pintunya ntar ada yang ganggu tia langsung menyuruh masuk yeny..
    Yeny pun langsung masuk dan melepas dasternya dan langsug bugil karena tidak pake cd dan bh…
    Wow tubuh yenny ngga kalah baguss ama tia, putih, bersih n toketnya gede banget mungkin terlalu sering digunakan sama pacarnya kali.
    Tia pun melanjutkan mengulum kontholku dan yeny langsung melumat bibirku..
    Gila niatnya mau mempekosa kok malah gue yang diperkosa, ama dua cewe cantik lagi..
    Yeny turun ke dadaku dan menjilati puting ku..
    Ouh..nikmat banget..lu berdua emang jagooo. Terus sayang i love it….kini yeny turun keselangkangan ku dan bergantian mengulum kontholku sama tia..
    Sungguh sahabat yang serasi saling berbagi konthol……
    Kini tia menghadapkan memeknya ke mulutku..
    sekarang lu makan nih memek gue….
    Tia pun mendorong memeknya kemulutku dan aku pun langsung menjulurkan lidahku…
    Tia pun terus memompa semetara yeny teru asyik mengulum kontholku….
    Kira-kira sepuluh menit kami saling ber-oral seks…
    Aku pun membaringkan tia di kasur semantara yeny duduk sambil memainkan jari di memeknya…
    wan jangan lu tumpain didalem ya..gue lagi masa subur nih..
    Tenang aja sayang
    Aku pun memainkan kontholku di bibir vaginanya….
    shhhh..ouhhh masukin wan gue ga tahan nih……
    Akupun memasukkan kontholku pelan-pelan…agak susah karena kontholku lumayan besar (18cm) walaupun vaginanya tia sudah sangat becek…
    dorong yang dalem wan konthollu enak banget terus wan…
    Bles…. kontholku masuk semua kedalam memeknya tia…
    Aku pun mulai memompa kontholku…
    ouh..hhshhhh…uhfff..terus wan entot teru memek gue….
    enak kan konthol gue…mana lebih enak konthol gue atau kontholnya pacar lu
    konthol lu lebih enak sayang…gede banget…terus sayang entot terus, tusuk yang dalem memek gue…
    Sementara yeny kini mulai menjilati puting susunya tia sambil meremas remasnya..
    Tia mulai bergerak tidak teraturr menahan nikmat…sementara tangangku asyik bermain fucking finger di memek nya yeny…
    Terus sayang aku mau keluar nihh….entot terus memek gue terusssssssss…ouhhhh…gue sampe wan..
    konthol ku serasa dijepit dan kemudian terasa hangat karena cairan kenikmatannnya tia.. akupun terus memompa memeknya tia yang sudah sangat becek…
    Clep..clep…clep..terdengar bunyi dari memeknya tia yang terus ku pompa..sementara yeny kini mengelus-elus dadaku yang penuh keringat…
    Tia memek lu enek banget gue entot lagi ya…konthol gue rasanya ga mau lepas
    entot terus memek gue wan…gue seneng banget …terus wan…..konthol lu perkasa wan…
    Tia pun mengoyangkan pingulnya mengikuti irama kontholku ku..tampaknya birahinya telah bangkit kembali….
    Kuketekuk kakinya kedepan sehingga kontholku lebih leluasa menerobos memeknya tia….
    oh nikmat banget wan konthollu masuk dalam banget…terus wan…entot yang kuat memek gue…nikmatin sepuasmu sayang…ouhhhh…uhfff…
    Kulihat yeny sedang asyik meainkan klitorisnya sendiri.nampaknya dia sudah sangat konak…
    wan gue mau keluar lagi nihh….terus sayang…yang kenceng……. konthollu enak wan…
    Akupun mempercepat goyangan ku dan sekali lagi tubuh tia kembali mengejang dan menumpahkan cairan kenikmatan…kucabut kontholku…dan kulihat memeknya tia nampak merah dan carairan kenikmatannya keluar mebasahi kasur…
    gue cape banget wan…ternyata lu hebat muasin wanita…..
    aku pun melumat bibirnya dengan nafsu…tiba tiba kontholku serasa hangat dan kulihat ternyata yeny telah asyik mengulum kontholku….
    wan lu kok kuat banget sihhh..mulai tadi belum keluar..memek gue aja udah tiga kali..
    aku pun hanya tersenyum..
    aku pun duduk dan menyuruh yeny terus mengulum kontholku…
    terus yen..kuluman lu enak banget…isep yang kuat kontholku….
    Yeny pun dengan ganas mengulum kontholku…
    wan entot gue sekarang ya…gue ga tahan nihhh…konthol lu gede banget…memek gue udah gatel nih pengen rasain konthol mu…
    Aku pun menyuruhnya menungging ala dogy style..kudorong pelan-pelan kontholku sampai amblas kedalam…
    ouh…nikmat banget kontholmu wan….terus wan goyang….
    Ku pompa terus memek nya yeny..
    wan enak banget…shhhh..uhff….entot terus wan,….entot yeny terus wan…yeny suka dientot ama kamu…
    Yeny mulai meracau tidak karuan sementara tia memelukku dari belakang dan dan menggesek-gesekkan jembutnya di pantatku sambil menciumi leherku…
    Tia terus berbisik kepadaku aku sayang kamu wan maukan kamu puasin aku terus..
    Aku hanya diam karena sedang berkonsentrasi mengentot memeknya yeny…
    wan gue mau keluar nih…terus wan….entot terus….ouh….
    Cret..cret..cret..terasa kontholku disiram oleh cairan cintanya yeny….aku pun terus memompanya karena aku belum apa-apa…
    Yeny nampak menahan rasa sakit dan nikmat…kutarik rambutnya sehingga wajahnya menghadap kebalakang melihatku….
    enak yen kontholku….
    enak banget wan…entot terus memek gue….terus wan…
    Kini yeny memutar-mutar pingulnya sehingga kontholku serasa terpilin-pilin
    terus yen..gue mau keluat nih…enak banget…
    iya wan gue juga mau keluar lagi….entot yang kenceng memek gue wan….
    gue tumpai dimana ni yen…
    tumpain didalam aja wan…memek gue pengen ngerasin sperma mu…
    aku pun menggenjot dengan cepat memeknya yeny dan tia sedang asyik mencupang leherku…
    gue keluar nih wan…ouh…aahhhh
    gue jua yen…..ouhhhhhhhhhh….
    Cret…cret….cret…aku pun menumpahkan spermaku didalam memeknya yeny sambil kupompa pelan-pelan..
    Sperma ku sebagian keluar lewat bibir vaginanya…
    enak banget di entot sama elu wan…uhfff…cape banget gue..
    Aku pun mencabut kontholku, karena tadi aku udah onani jadi kontholku langsung lemes..yeny langsung menjilati sisa2 sperma dikontholku sampai bersih…
    Setelah itu dia pamitan
    gue udah dulu ya cape banget nih soalnya tadi udah juga ama pacar gue..lu lanjutin aja berdua…kasian tuh sih tia, dia kayanya masih konak tuh..bye..
    Yeny pun keluar kamar…dan kini tinggal saya sama tia..
    tia sebenernya gue udah lama banget pengen ML ama elu tapi gue takut ngajak soalnya lu udah punya pacar
    wan konthol lu enak banget..jauh lebih enak dari kontholnya pacar gue jadi kapanpun lu minta memek gue, bakal gua kasih..hati gue memang milik pacar gue , tapi memek gue boleh lu milikin selama ada kesempatan..
    Akupun sangat seneng mendengarnya..wah bisa ngentot kapan aja nih..tinggal naik keatas..pikirku dalam hati…
    wan entot gue sakali lagi dong gue masih pengen nih…lu masih kuat kan..tapi konthol lu kok udah lemes sih…
    gue tadi abis onani abis gue udah konak banget..tapi kalo lu masih mau, lu kasi bangun nih ade gue..
    Tia pun tersenyum manis dan denga lahap mengulum kontholku yang masih lemas..dia memasukkan semua kontholku sampai kemulutnya dan menghisapnya..kurasakan lidahnya bermain diujung kontholku..
    ohhh nikmat banget tia…terus ade gue mulai bangun nih….
    konthol ku pun mulai tegang kembali, tia mengulumnya dengan lembut seperti sedang menikmati lolypop…
    cepet juga nih berdiri kontholmu wan..
    isep terus ya..isepan lu enak banget…
    Tia pun meghisap kontholku sambil lidahnya menggelitik ujung kontholku…
    Hampir sepuluh menit dia menhisap kontholku…
    masukkin ya sayang gue udah ga tahan nih liat konthol lu..
    Tia pun jongkok diatas konthol ku dan mengarahkan konthol ku kevaginanya..
    Pelan-pelan tapi pasti dia menurunkun pantatnya..kulihat rona mukanya yang memerah menahan sakit campur nikmat yang diberikan oleh konthol ku…
    ouh…konthol lu kok bisa gede banget sih wan..kayanya sampe ke rahim gue nih..
    Tia pun mulai menggoyang pinggulnya seperti inul sedang goyang ngebor….
    ouhh tia…enak banget sayang…terus sayang………
    konthol ku serasa di pijat dari segala arah sementara tangan ku meremas toketnya dengan kuat menahan rasa nikmat…
    oh sayang..kontholmu enak banget …remas yang kuat tete gue sayang…ouhh..uhff….
    Aku pun meremas toketnya dengan kuat dan menggoyang pnggulku…
    Nikmat sayang gue mau keluarnih….terus…
    Dia pun meremas tanganku yang berda ditoketnya..sepertinya dia sedang menahan sesuatu yang sangat nikmat dan kepalanya mengadah keatas..
    ouhhhh….gue keluar lagi sayang nikmat banget…..uhffff….
    Cairan cintanya pun mengalir dibantang kontholku dan membasahi jembut ku
    Dia pun menunduk mencium bibir ku sementara kontholku masih berada divaginanya…
    thanks sayang lu udah muasin gue…gue cape banget nih….
    Aku pun tidak memperdulikannya kubaringkan dia dan ku pompa kembali memeknya.. ouhhh sakit sayang……terus…sayang…. .uhfff….
    Aku pun memompa semakin liar…
    memek lu enak banget tia ….terus tia …goyang terus pinggul lu…gue mau keluar nih
    Tia pun menggoyang pinggulnya…
    sayang jangan dikeluarin didalam ya….
    Aku pun mencabut konthol ku kemudian berdiri dan menyuruh tia mengocoknya..
    Tiapun jongkok mengocok konthol ku
    ayo sayang keluarin spermamu….gue pengen rasain spermamu…
    Tia terus mengocok dengan semangat sambil menjilat ujung kontholku…
    hisap sayang pake mulutmu gue mau keluar nihhh..
    Tia pun langsung memasukkan kontholku kemulutnya dan menghisapnya semantara tanganya memainkan bijinya..
    Ku entot terus mulutnya tia, terasa sangat hangat kontholku didalam mulutnya tia..
    hisap tia gue keluar nih….ouhhhh achhh……..
    Creeet…creett…crettt…spe rma ku tumapah semua dimulutnya….tia langsung menelannya dan menjilati sperma yang masih tersisa di kontholku…diapun menjilat sperma yang disekitar bibirnya….
    sperma lu enak banget..rasanya asin…tapi nikmat wan..
    kontholku pun langsung lemas karena sudah keluar tiga kali dalam waktu beberapa jam..
    Gue cape banget nih tia….
    tia pun berbisik…wan gue konak lagi sekarang gara gara isep konthol lu..
    Gila nih cewe nafsunya tinggi banget sementara tenaga ku sudah habis terkuras…
    wan lu jilatain memek gue ya ampe keluar…
    Dia pun berbaring dan mengangkang…aku pun mulai menjilati memeknya yang sudah sangat becek….terasa asin namun nikmat….
    wan lu balikin badan lu donk biar gue isep konthol lu…soalnya gue tambah konak kalo isep konthol lu
    Aku pun berbalik, kini kami bergaya 69 menyamping….kepalu ku dijepit oleh pahanya tia dan lidah terus memainkan lubang vaginanya dan kadang kutusuk masuk kevaginanya. Semantara jari ku kutusuk masuk kedalam lubang anusnya…
    enak wan tangan lu…kocokkin anus gue wan…terus wan…
    Kini pinggul tia mulai bergoyang menekan mulutku…semantara kontholku terus dihisap dengan kuat sehingga kini kontholku telah berdiri kembali…
    terus sayang hisap yang kuat lubang vaginaku….ohhh aku mau keluar sayang…ouhhhhh…achhh…
    Cret..crett…terasa cairan asin membasahi lidahku….aku pun menjilatnya sampai habis…
    udah sayang kan..kamu puas kan aku pun memeluknya
    puas banget sayang kontholmu enak banget, pengen rasanya isep kontholmu terus..sayang kontholmu masih berdiri tuh gara-gara ku isep tadi….
    Biarin aja aku udah cape banget nih ntar lemes sendiri kok…
    Kulihat jam telah pukul 2 pagi dan aku sangat ngantuk namun nampaknya tia tidak mau menyia-nyiakan konthol ku yang lagi ngaceng..
    kamu tiduran aja ya,,biar kontholnya ku isep ampe keluar….kasian udah terlanjur berdiri nih..
    Ternyata tia punya nafsu yang tinggi….dia pun mengulum kontholku dengan lahapnya sementara aku hanya berbaring menikmatinya…
    shhh…uhfff terus sayang..
    Sekitar setengah jam dia mehisap akhirnya aku mau keluar….
    isep sayang aku mau keluar nih…..
    Dia pun mengulum kontholku dengan cepat dan cret..cret…sperma ku kembali keluar di mulutnya dan nampaknya hanya sedikit…dia pun asik menjilati nya sampi bersih dan badanku pun terasa lemas sekali…
    Gila kayanya gue yang diperkosa ama tia nih…dia kok kuat banget ya…pikirku dalam hati.. Kulihat tia terus menjilat kontholku dan aku pun memejamkan mata karena mengantuk dan akhirnya tertidur….dan tia pun tertidur disamping kontholku..
    Kira-kira pukul 10 aku terbangun..kulihat tia sedang menyiapakan makanan, rambutnya basah habis keramas…dia hanya memakai sarung bali yang dililitkan sampai didadanya..
    udah bagun wan…mandi gih sana trus makan nih..pasti lu laper banget kan..
    Oke deh sayang….jawabku..
    Kamar di kosku ada kamar mandinya didalam jadi ga perlu repot-repot keluar kamar..akupun mandi dan tidak menutup pintu..kulihat tia memandangku terus penuh nafsu…
    pacar lu ga datang hari ini tia..tanyaku
    katanya mau datang ntar siang jam 2.. balas tia wah…gue harus balik nih kekamar gue.. ntar lagi aja ..baru jam 10..lu makan aja dulu..
    Tia terus memandangiku dan kini tangannya meremas toketnya sendiri..akupun memanggilnya..
    Tia pun langsung masuk ke kamar mandi dan melepaskan sarung balinya..
    wan lu entot gue lagi sekarang ya…memek gue gatel nih liat konthol lu…
    gila lu tia…ga ada cape nya…
    abis lu sih mandi kaga tutup pintu, ya konak deh gue liat konthol lu..
    Dia pun jongkok mulai menghisap kontholku yang masih lemas…
    Tidak berapa lama kemudian konthol ku kembali berdiri tegak….
    Kusuruh Tia nungging dan tangang nya berpegang ke bak mandi…
    Kumasukkan kontholku kedalam memeknya yang sudah basah..dan ku entot dengan brutal…
    achhhh sakit sayang…pelan-pelan dong ntar memek gue robek nih..
    Aku tiadak peduli dan terus menggoyang pinggulku semakin ganas…
    sakit sayang…nikmatttt….terus… perkosa aku…entot terusss..
    Aku memompa memeknya tia dan tanganku meremas-remas toketnya yang bergelantungan..
    nikmat sayang terus….konthol mu panjang banget
    Tia terus meracau dan Tidak lama kemudian kurasakan tubuh tia mengejang
    ouhhh gue keluar sayang…enak konthol mu sayang…
    Aku pun mencabut konthol ku dari memeknya….
    sini gue isep lagi ampe keluar wan..
    Ngga ah gue mau entot lu aja ampe keluar..sekarang lu baring yah
    dimana disini sayang… ya iyalah…suasana pasti tambah asyik…
    Kemudian kubaringkan tia di lantai kamar mandi dan kubuka lebar lebar pahanya sehingga terlihat jelas vaginanya yang merekah…
    Ku tancapkan kontholku perlahan lahan dan beberapa saat kemudian kontholku sudah keluar masuk di memeknya…
    ouchhh nikmat sayang entot terus sayang,,siram rahimku dengan sperma mu…
    Terus sayang..
    Nampaknya gejolak birahi tia sudah memuncak sehingga dia meracau tidak karuan..kepalanya menggeleng kekiri dan kekanan di lantai kamar mandi sehinga terlihat sangat seksi…
    Aku pun memompa semakin cepat…
    entot terus sayang,, tusuk terus memek ku..
    aku mau keluar lagi…terus sayang….ouchhh..ahh… uhff..aku sampe sayang..
    Cairan cinta pun keluar dari vaginanya tia sementara itu aku juga udah mau keluar…
    Kemudian kucabut kontholku dari memeknya dan kuarahkan kewajahnya…
    Crot…crott…crot…sperma ku keluar membasahi wajah tia…kumasukkan kontholku kedalam mulutnya dan dia langsung menjilat dengan lahapnya….
    kubersihkan wajah nya dari spermaku menggunakan tangan ku dan dia langsung menjilat jari-jari ku yang penuh dengan sperma……
    Aku pun kemudian menariknya untuk berdiri…dan kami pun mandi bersama-sama
    Setelah mandi kami langsung makan..kulihat sekarang telah pukul setengah dua..
    gue turun dulu ya sayang..pacar lu udah mau datang kayanya tuh…
    oke deh sayang, kalo lu mau entot gue lu sms aja truz bilang kalo mau pinjam buku..kalo gue bales lu langsung naik aja ya…
    oke sayang aku pun mencium bibirnya sekali lagi dan turun meninggalkan tia…
    Diluar aku ketemu yeny…
    gila nih..kayanya lembur ya…kirain lu udah turun ternyata masih didalem..
    yeny pun berbisik…ntar kalo gue panggil lu entot gue lagi ya…gue ketagihan ama konthol lu yan gede…
    oke deh kapan pun lu panggil gue selalu siap..
    Akupun kembali kekamarku…dan tidak berapa lama kemudian pacarnya tia datang dan langsung naik keatas…
    kasian pacarnya baru gue garap semalaman.. kata ku dalam hati
    Aku pun langsung beli telur ayam kampung untuk memulihkan stamina ku..
    Ketika aku mau tidur tiba-tiba hp ku berdering dan ternyata yeny yang telpon…
    wan lu naik donk entot gue nih…gue konak nih abis tia lagi konthol ama pacarnya tuh..
    oke deh sayang
    Aku pun naik keatas dan kembali memuaskan yeny….
    Begitulah kegiatan ku satiap hari jika sedang tidak ada kuliah…
    Aku kaya cowo panggilannya tia ama yeny.. dan kadang kami pun main langsung bertiga.. –

    Cerita Sex: Aku Beli Perawan ABG Yang Butuh Duit

    Cerita Sex: Aku Beli Perawan ABG Yang Butuh Duit.

    cerita-sex-aku-beli-perawan-abg-yang-butuh-duit
    Kring.. Kring.. HP-ku berbunyi. Saat itu aku berada di kantorku sedang membaca surat-surat dan dokumen yang barusan dibawa Lia, sekretarisku, untuk aku setujui. Kulihat di layar tampak sebuah nomor telepon yang sudah kukenal.
    “Halo.. Dita.. Apa kabar” sapaku.
    “Hi.. Pak Robert.. Kok udah lama nih nggak kontak Dita”
    “Iya habis sibuk sih” jawabku sambil terus menandatangani surat-surat di mejaku.
    “Ini Pak Robert.. Ada barang bagus nih..” terdengar suara Dita di seberang sana.
    Dita ini memang kadang-kadang aku hubungi untuk menyediakan wanita untuk aku suguhkan pada tamu atau klienku. Memang terkadang untuk menggolkan proposal, perlu adanya servis semacam itu.
    Terkadang lebih ampuh daripada memberikan uang di bawah meja.
    “Bagusnya gimana Dit?” tanyaku penasaran.
    “Masih anak-anak Pak.. Baru 15 tahun. Kelas 3 SMP. Masih perawan”
    Mendengar hal itu langsung senjataku berontak di sarangnya. Memang sering aku kencan dengan wanita cantik, ABG atupun istri orang. Tetapi jarang-jarang aku mendapatkan yang masih perawan seperti ini.
    “Cantik nggak?” tanyaku
    “Cantik dong Pak.. Tampangnya innocent banget. Bapak pasti suka deh..” rayu Mami Dita ini.
    Setelah itu aku tanya lebih lanjut latar belakang gadis itu. Namanya Tari, anak keluarga ekonomi lemah yang perlu biaya untuk melanjutkan sekolahnya. Orang tuanya tidak mampu menyekolahkannya lagi sehabis SMP nanti,
    sehingga setelah dibujuk Dita, dia mau melakukan hal ini.
    “Minta berapa Dit? ” tanyaku
    “Murah kok Pak.. cuma lima juta”
    Wah.. Pikirku. Murah sekali.. Aku pernah dengar ada orang yang beli keperawanan sampai puluhan juta. Singkat kata, akupun setuju dengan tawaran Dita. Aku berjanji untuk menelponnya lagi setelah aku sampai di lokasi nanti.
    “Lia.. Ke sini sebentar” kutelpon sekretarisku yang sexy itu.
    Tak lama Lia pun masuk ke ruanganku. Sambil tersenyum manis dia pun duduk di kursi di hadapanku.
    “Ada apa Pak Robert?” tanyanya sambil menyilangkan kakinya memamerkan pahanya yang putih.
    Belahan buah dadanya tampak ranum terlihat dari balik blousenya yang agak tipis. Ingin rasanya aku nikmati dia saat itu juga, tetapi aku lebih ingin menikmati perawan yang ditawarkan Dita. Toh masih ada hari esok untuk Lia, pikirku.
    “Saya perlu uang lima juta untuk entertain klien. Tolong minta ke bagian keuangan ya” kataku.
    “Baik Pak” jawabnya.
    “Ada lagi yang bisa saya bantu Pak Robert..?” Lia berkata genit sambil menatapku menggoda.
    “Nggak.. Mungkin lain kali Lia.. Saya sibuk banget nih” kataku pura-pura.

    Aku tak ingin staminaku habis sebelum bertempur dengan Tari, anak SMP itu. Liapun beranjak pergi dengan raut muka kecewa, dan tak lama dia kembali membawa uang yang aku minta beserta slip tanda terima untuk aku tandatangani.
    “Nanti kalau perlu lagi, panggil Lia ya Pak” katanya masih mengharap.
    “Baik Lia.. Saya pergi dulu sekarang. Jangan telepon saya kecuali ada emergency ya” jawabku sambil mengemasi laptopku.
    Tak lama akupun sudah meluncur dengan Mercy kesayanganku menuju hotel di kawasan Semanggi. Akupun cek in di hotel yang berdekatan dengan plaza yang baru dibangun di daerah itu. Setelah mendapatkan kunci akupun bergegas menuju kamar suite di hotel itu.
    Setiba di kamar, kutelpon Dita untuk memberitahukan lokasiku. Dia berjanji untuk datang sekitar satu jam lagi. Sambil menunggu kunyalakan TV dan menonton siaran CNN di ruang tamu kamarku. Sedang asyik-asyiknya melihat berita perang di Irak tiba-tiba HP-ku berbunyi.
    “Sialan Lia. Aku khan sudah bilang jangan telepon.” pikirku sambil mengangkat telepon tanpa melihat caller ID-nya.
    “Halo. Pak Robert.. Ini Santi” kata suara di seberang sana. Santi ini adalah istri dari Pak Arief, manajer keuangan di kantorku.
    “Oh Santi.. Aku pikir sekretarisku. Ada apa San?”
    “Nggak Pak Robert.. Cuma kangen aja. Pengin ketemu lagi nih Pak.. Aku pengin ulangi kejadian yang di pesta dulu itu. Bisa ketemuan nggak Pak hari ini?”
    “Wah.. Kalau hari ini nggak bisa San.. Aku sedang di tempat klien nih” jawabku mengelak.
    “Khan minggu depan suamimu sudah pergi.. Jadi kita bisa puas deh nanti seharian” lanjutku.
    “Habis Santi udah kangen banget Pak..” rengeknya.
    “Sabar ya sayang.. Tinggal beberapa hari lagi kok” hiburku.
    “OK deh.. Sorry kalau mengganggu ya Pak” katanya menyudahi pembicaraan.
    Wah, ternyata dia sudah tak sabar kepengin aku kencani, pikirku. Mungkin baru pertama dia bertemu dengan laki-laki jantan sepertiku di pesta perkawinan dulu. Kemudian aku telepon Lia untuk menanyakan kepastian kepergian Pak Arief ke Singapore, yang dijawab bahwa semuanya sudah confirm dan Pak Arief akan berangkat tiga hari lagi.
    Setelah satu jam setengah aku menunggu, terdengar bunyi bel kamarku. Kubuka pintu kamarku dan tampak Dita bersama seorang gadis belia, Tari.
    “Maaf Pak Robert. Tadi Tari baru pulang dari latihan pramuka di sekolahnya” alasan Dita. Mungkin tampak di wajahku kalau aku kesal menunggu mereka.
    “OK nggak apa.. Ayo masuk” kataku sambil memperhatikan Tari.
    Hari itu dia mengenakan tanktop yang memperlihatkan bahunya yang putih mulus.
    Juga rok mini jeans yang dikenakan menambah cantik penampilannya. Tubuhnya termasuk bongsor untuk anak seusia dirinya. Dari balik tanktopnya tersembul buah dadanya yang baru tumbuh.
    Yang membuat aku kagum adalah wajahnya yang cantik dan terkesan innocent.
    “Tari.. Ini Oom Robert” kata Dita memperkenalkanku padanya.
    Kuulurkan tanganku dan disambutnya sambil berkata lirih,
    “Tari..”
    Kemudian kami bertiga duduk di sofa, dengan Tari duduk disamping sedangkan Dita berhadapan denganku.
    Kurengkuh pundak Tari dengan tangan kiriku, sambil kuelus-elus sayang.
    “Gimana Pak.. OK khan” Dita bertanya
    “OK.. Kamu jemput lagi aja nanti” jawabku sambil mengelus dan meremas lengan Tari yang mulus itu gemas. Setelah itu Dita pamitan, tentu saja setelah menerima pembayarannya.
    “Kamu lapar nggak Tari? Kita pesan makanan dulu yuk” saranku.
    Dia hanya menganggukkan kepalanya. Sekarang memang sudah waktunya makan malam.
    dan aku tak mau staminaku tidak prima hanya karena perutku yang lapar. Apalagi ternyata gadis yang dibawa Dita ini cantik sekali.
    “Pesan apa?” tanyaku sambil memberikan room service menu padanya.
    “Nasi goreng aja Oom”
    “Minumnya?”
    “Minta susu boleh Oom?” jawabnya.
    Langsung aja aku pesan beefsteak dan bir untukku, dan nasi goreng serta susu untuk Tari. Sambil menunggu pesanan datang, kamipun menonton TV.
    “Channelnya Tari ganti ya Oom” katanya sambil mengambil remote.
    “Oh ya.. Oom juga bosen lihat perang terus” jawabku sambil mengagumi keindahan Tari.
    Setelah dia duduk, kuelus-elus rambutnya yang berpita dan panjangnya sebahu itu. Tari kemudian mengubah channel TV ke channel Disney. Rupanya dia suka menonton film kartun. Maklum masih anak-anak, pikirku.
    “Kamu sudah punya pacar?” tanyaku setelah kami terdiam beberapa saat.
    “Belum Oom..”
    “Kenapa?” tanyaku lagi
    “Tari khan masih kecil..” katanya sambil terus menatap adegan kartun di TV.
    Aku pun makin bernafsu mendengar jawabannya. Yah..
    Akulah nantinya yang akan menikmatimu untuk pertama kalinya he.. He.. Kuciumi pipinya sambil kuelus-elus pahanya. Tari nampak tak terbiasa dan bergerak agak menghindar.
    Pahanya yang putih mulus makin tersibak menampakkan pemandangan yang indah.
    Tanganku kemudian meraba dadanya yang baru tumbuh itu.
    Kemudian kupegang wajahnya dan kucium bibirnya.
    Tampak sekali bahwa dia belum berpengalaman dalam hal seperti ini.
    Tanganku sudah ingin melucuti tanktopnya ketika tiba-tiba bel kamarku berbunyi.
    “Room Service” terdengar suara di depan kamarku.
    Akupun berdiri meninggalkan Tari untuk membuka pintu.
    Tampak ada perasaan lega di raut wajah Tari ketika aku beranjak pergi.
    “Ada pesanan lagi Pak?” tanya petugas room service setelah meletakkan makanan di meja.
    “Nggak” jawabku
    “Mungkin buat anaknya?” tanyanya lagi
    “Mungkin nanti menyusul” kataku sambil menandatangani bill yang diserahkannya.
    Aku geli juga mendengar si petugas menyangka Tari adalah anakku.
    Memang pantas sih dilihat dari perbedaan umur kami.
    Kamipun lalu menyantap makanan kami. Tari menikmati nasi goreng dan segelas susunya sambil terus menonton kartun kesayangannya.
    “Mau buah Tari?” kataku sambil mengambil buah-buahan dari minibar.
    “Nggak Oom.. Udah kenyang. Dibungkus aja boleh ya Oom.. Untuk adik di rumah” katanya.
    Hm.. Benar-benar manis ini anak, pikirku. Dalam hati aku kasihan juga pada dia,
    tapi aku tak dapat menahan nafsu birahiku untuk menikmati tubuhnya yang muda itu.
    Aku makan satu buah apel dan kuberikan sisanya padanya.
    Diterimanya buah-buahan itu dan kemudian dimasukkan dalam tasnya. Akupun kembali duduk disampingnya dan kemudian kuambil remote dan kumatikan TVnya.
    “Ayo sayang kita mulai ya..” kataku sambil menciumi pundaknya yang terbuka.
    Aku kemudian beralih menciumi bibirnya sambil tanganku meremas-remas dadanya. Tak ada response darinya.
    Ketika tangannya yang mungil aku letakkan di atas kemaluanku, dia diam saja.
    “Kok diam saja sih!!” Bentakku.
    “Oom.. Tari nggak pernah Oom.. Belum ngerti” jawabnya lirih ketakutan.
    “Ya sudah sini kamu..” kataku sambil beranjak ke meja dimana laptopku berada.
    Tari mengikutiku dari belakang. Langsung kusetel film BF yang aku simpan di dalam harddiskku.
    “Ayo sini duduk Oom pangku” kataku.
    Taripun duduk di atas pangkuanku sambil melihat adegan persetubuhan dimana seorang wanita bule cantik sedang dengan rakusnya mengulum kemaluan orang berkulit hitam.
    Mata Tari tampak takjub melihat adegan yang pasti baru pertama kalinya dia lihat itu. Sementara aku menciumi dan menjilati pundak dan lehernya yang jenjang dari belakang. Tangankupun telah masuk ke dalam tanktopnya dan meremas-remas buah dadanya yang masih tertutup BH itu. Kutarik ke atas cup BHnya sehingga tangankupun leluasa menjelajahi dan meremas buah dadanya yang mulai tumbuh itu. Kupilin perlahan puting dadanya yang mulai mengeras.
    “Oom.. Jangan Oom.. Tari malu” katanya sambil menatap adegan di laptopku dimana si wanita bule sedang mengerang-erang nikmat disetubuhi dari belakang.
    “Nggak usah malu sayang” jawabku sambil agak memutar tubuhnya sehingga aku leluasa menikmati dadanya.
    Kulumat buah dada yang baru tumbuh itu dan kujilat lalu kuisap putingnya yang kecil berwarna merah muda itu. Sementara tanganku yang satu telah merambah paha sampai mengenai celana dalamnya.
    “Pelan-pelan Oom.. Sakit” desahnya ketika tanganku mengusap-usap kemaluannya setelah celana dalamnya aku sibak. Mulutku masih sibuk mencari kepuasan dari buah dada anak belia ini.
    “Kamu cantik sekali Tari.. Ohh yeah..” kataku meracau sambil mengulum dan menjilati buah dadanya.
    Tanganku mengelus-elus pundaknya yang jernih, sedangkan yang satunya sedang merambah kemaluan anak perawan ini. Kemaluanku tampak memberontak di dalam celanaku, bahkan sudah mengeluarkan cairannya karena sudah sangat terangsang.
    Kuturunkan Tari dari pangkuanku, dan akupun berdiri didepannya. Kuciumi bibirnya dengan ganas sambil tanganku meremas-remas rambutnya.
    “Emmhh.. Emmhh..” hanya itu yang terdengar dari mulut Tari.
    Kumasukkan lidahku dan kujelajahi rongga mulutnya. Sementara kuraih tangan Tari dan kuletakkan ke kemaluanku yang sudah sangat membengkak. Tetapi lagi-lagi dia hanya diam saja. Memang dasar anak-anak,
    belum tahu cara memuaskan lelaki, pikirku. Dengan agak kesal kutekan pundaknya sehingga dia berlutut di depanku.
    Dia agak berontak akan bangun lagi.
    “Ayo.. Berlutut!!” kataku sambil menarik rambutnya.
    Tampak air mata Tari berlinang di sudut matanya. Dengan cepat aku lepas celana dan celana dalamku, sehingga kemaluanku berdiri dengan gagah di depannya.
    “Ayo isap!!” perintahku pada Tari yang tampak ketakutan melihat kemaluanku yang sebesar lengannya itu. Kugenggamkan tangannya pada kemaluanku itu.
    “Ampun oomm.. Jangan Oom.. Besar sekali.. Nggak muat Oom” katanya mengiba-iba. Terasa tangannya bergetar memegang kemaluanku.
    “Ayo!!” bentakku sambil menarik rambutnya sehingga kemaluankupun menyentuh wajahnya yang imut dan innocent itu.
    Tampak Tari sambil menahan tangisnya membuka mulutnya dan akupun sambil berkacak pinggang menyorongkan kemaluanku padanya.
    “Aahh.. Yes.. Make Daddy happy..” desahku ketika kemaluanku mulai memasuki mulutnya yang mungil. Akupun mengelus-elus rambutnya yang berpita itu dengan penuh kasih sayang ketika Tari mulai menghisapi kemaluanku.
    “Ayo jilati batangnya.. Sayang” kataku sambil mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya. Taripun mulai menjilati batang kemaluanku dengan perlahan.
    “Ayo isap lagi” instruksiku lagi sambil tanganku mengangkat dagunya dan menyorongkan kemaluanku padanya.
    Taripun mulai lagi mengulum kemaluanku, walaupun hanya ujungnya saja yang masuk ke dalam mulutnya. Kutekan kemaluanku ke dalam mulutnya sehingga hampir separuhnya masuk kedalam mulutnya. Tampak dia tersedak ketika kemaluanku mengenai kerongkongannya. Dikeluarkannya kemaluanku untuk mengambil nafas, sementara aku tertawa geli melihatnya.
    “Sudah. Oom.. Jangan lagi Oom” Tari memohon. Air matanya tampak menetes di pipinya
    “Oom belum puas. Ayo lagi!!” bentakku sambil menjambak rambutnya,
    sehingga wajahnya terdongak ke atas menatapku.
    Taripun terisak menangis, tetapi kemudian dia kembali menjilati dan mengulum kemaluanku. Pemandangan di kamar hotel itu sangatlah indah menurutku. Seorang laki-laki dewasa dengan tubuh tinggi besar sedang berkacak pinggang, sementara seorang anak di bawah umur dengan wajah tanpa dosa sedang mengulum kemaluannya.
    Mungkin sekitar 15 sampai 20 menit aku ajari anak perawan itu cara untuk memberikan kepuasan oral pada lelaki. Setelah itu aku merasakan kemaluanku akan meledakkan cairan ejakulasinya.
    “Buka mulutmu!!” perintahku pada Tari sambil mengeluarkan kemaluanku dari kulumannya.
    Kemudian kukocok-kocok kemaluanku sebentar, dan kemudian muncratlah cairan spermaku ke dalam mulutnya dan sebagian mengenai wajahnya.
    “Oh.. Yeahh.. Nikmat.. Kamu hebat Tari..” erangku saat orgasme.
    “Ayo telan!!” perintahku lagi ketika melihat dia akan memuntahkan spermaku keluar.
    Tampak dia berusaha menelan spermaku, walaupun karena jumlahnya yang banyak, sebagian meleleh keluar dari mulutnya. Diambilnya tisu dan dibersihkannya wajahnya sambil membetulkan pakaiannya sehingga rapi kembali. Dia pun kemudian mengambil dan meminum habis sisa susunya. Sementara aku pergi ke toilet untuk buang air kecil.
    Sekembalinya aku dari toilet, tampak Tari sedang duduk gelisah di sofa. Pandangan matanya tampak kosong dan berubah menjadi takut ketika melihat aku menghampirinya. Aku tersenyum dan duduk disampingnya.
    Kembali kuelus-elus pundak dan tangannya.
    “Omm.. Tari pengin pulang Oom.. Tari capek..” katanya.
    “Yach kamu istirahat dulu aja sayang” jawabku sambil mencium pipinya.
    Kamipun duduk terdiam. Kusetel kembali TV yang masih menayangkan acara kartun kesukaannya itu. Kuusap-usap tubuhnya yang duduk di sampingku sambil sesekali kuciumi. Aku menunggu hingga kejantananku bangkit kembali.
    Aku beranjak ke meja dimana laptopku masih menayangkan adegan syur semenjak tadi.
    Di layar sekarang seorang pria bule sedang dihisap kemaluannya oleh dua wanita cantik. Yang satu bule juga, sedangkan yang lain wanita Asia, kalau tidak salah Asia Carrera namanya. Memang film produksi Vivid ini bagus sehingga aku menyimpannya di harddiskku. Melihat adegan demi adegan di layar, kejantananku pun perlahan bangkit kembali. Kudatangi sofa dimana Tari berada. Tari tampak gelisah ketika aku berlutut di depannya.
    “Aku ingin menikmati memekmu sayang” kataku sambil menyibakkan rok mininya.
    Kuciumi pahanya dan kujilati sampai mengenai celana dalamnya. Kemudian kulepas celana dalamnya itu sehingga vaginanya yang bersih tak berbulu itu tampak mempesonaku.
    “Jangan Oom.. Tolong Oom” kata Tari ketika tanganku mulai meraba kemaluannya. Karena gemas, langsung aku jilati dan isap vaginanya.
    Lidahku menari-nari dan kumasukkan ke dalam liangnya yang perawan itu.
    “Uuuuuhh.. Ampun Ooooom..Udaaaahh.. Ooom..Ouwhh..” erangnya ketika aku menemukan klitorisnya dan langsung kuhisap.
    Sementara tanganku naik ke atas meremas buah dadanya. Kupilin-pilin putingnya sehingga mulai mengeras.
    Sementara vaginanya pun sudah mengeluarkan lendir tanda dia telah siap untuk disetubuhi.
    “Ayo kita lanjutkan di ranjang, manis..” kataku sambil merengkuh tubuhnya dan menggendongnya. Aku ciumi bibirnya sambil badannya tetap aku gendong menuju kamar tempat tidur.
    Kurebahkan tubuhnya di ranjang, dan akupun mulai melucuti pakaianku. Tampak kemaluanku sudah kembali membengkak ingin diberi kenikmatan oleh anak kecil ini. Tari tampak memandangku dengan tatapan mengiba.
    Matanya menampakkan ketakutan melihat ukuran kemaluanku.
    Langsung kuterkam tubuhnya di ranjang dan kuciumi wajahnya yang manis.
    Kubuka tanktopnya juga BHnya dan kulempar ke lantai. Langsung kusantap buah dadanya yang masih dalam masa pertumbuhan itu, dan kujilati dan kuisapi putingnya hingga mengeras.
    Lalu kubuka rok mininya, sehingga Taripun sudah telanjang bulat pasrah di atas ranjang. Jariku kemudian menari merambah vaginanya dan mengusap-usap klitorisnya.
    “Tolong jangan Oom.. Aduuuuuh.. Ooooom.. Jangaaaaaan Oom.. Tari masih perawan Ooooom.” rengeknya. Aku menghentikan kegiatanku dan menatapnya
    “Memangnya Bu Dita bilang apa?” tanyaku
    “Katanya Tari nggak akan diperawani. Cuma dipegang dan diciumi aja” jawabnya terisak. Mendengar itu timbul perasaan iba karena ternyata dia telah dibohongi oleh Dita.
    “Ya sudah..”Kataku.
    “Kamu hisap lagi aja kontol Oom seperti tadi” perintahku.
    Akupun lalu tidur telentang dan Taripun kutarik hingga wajahnya berada di depan kemaluanku yang sudah berdiri tegak. Kutekan kepalanya perlahan, hingga Taripun kembali memberikan kenikmatan mulutnya pada kemaluanku. Tampak dari tatapanku, kepalanya naik turun menghisapi kemaluanku. Tangankupun mengelus-elus rambutnya penuh rasa sayang seperti rasa sayang bapak kepada anaknya.
    “Ya terus.. Sayang” erangku menahan nikmat yang tiada tara.
    Setelah beberapa menit, kutarik tubuhnya sehingga wajahnya tepat berada diatas wajahku. Kuciumi bibirnya sambil tanganku meremas-remas pantatnya. Kemudian kubalikkan badannya, sehingga badanku yang tinggi besar menindih tubuh belianya. Kusedot puting buah dadanya dan kugigit-gigit sehingga menimbulkan bekas memerah.
    Lalu kurenggangkan pahanya, dan kuarahkan kemaluanku ke vaginanya.
    “Jangan Oom.. Ampun Oom.. Jangan.. Ampuuuuun..” rengek Tari ketika kemaluanku mulai menyentuh bibir vaginanya.
    Aku tambah bernafsu saja mendengar rengekannya, dan kutekan kemaluanku sehingga mulai menerobos liang vagina perawannya. Terasa sesuatu menghalangi kemaluanku, yang pasti adalah selaput daranya
    “Aaaaaahh.. Sakiiiiiitt..Ooooooommm” jeritnya menahan tangis ketika kutekan kemaluanku merobek selaput daranya.
    Ppprrrreeeeeettttttt.. sreeeettt…ssrrreeeeetttt”‘
    Kutahan sebentar menikmati saat aku mengambil keperawanan anak ini,
    kemudian kugerakkan pantatku maju mundur menyetubuhinya.
    “Ah.. Nikmat.. Ahh.. God.. Memekmu enak Tari.” racauku
    “Oggghhhcccch..Aaaaauuuuwwwwhhhhhsssss… Ampun.. Sakiiiiit.. Udah Ooooooom.. Ampuuuuuunnn..” Tari merintih kesakitan sambil menangis.
    “Yes.. You naughty girl.. Daddy must punish you.. Yeaaaah..” aku kembali meracau kenikmatan.
    Kugenjot terus kemaluanku, dan aku merasakan nikmatnya jepitan vagina Tari yang sangat sempit itu.
    Tampak air mata Tari meleleh membasahi pipinya, dan ketika kugenjot kemaluanku tampak wajahnya menyeringai menahan sakit.
    Kemudian kutarik pahanya sehingga melingkari pinggangku, dan sambil duduk di ranjang kugenjot lagi vaginanya. Tanganku sibuk menjelajahi buah dadanya.
    Bosan dengan posisi itu, kubalikkan badannya dan kusetubuhi dia dengan gaya “doggy style”. Sudah tak terdengar lagi rengekan Tari, hanya suara erangannya dan isak tangisnya yang memenuhi ruangan itu.
    “Aaaaahh.. Sakit Oom ampuuuuun..” rengeknya kembali ketika rambutnya kutarik sehingga wajahnya terdongak ke atas.
    Sambil kusetubuhi tubuhnya, kadang kuciumi dan kugigiti pundak dan lehernya dari belakang,
    sambil tanganku memerah buah dadanya.
    Setelah kurang lebih satu jam aku setubuhi dia dengan berbagai macam posisi,
    akupun tak tahan untuk mengeluarkan cairan ejakulasiku. Kubalikkan badannya dan kugesek-gesekkan kemaluanku di dadanya.
    Kadang kugesek-gesekkan juga ke seluruh wajahnya.
    “Oooohh.. Memang enak perawan kamu Tari..” erangku sambil menumpahkan spermaku di dadanya.
    Akupun kemudian bergegas menuju toilet untuk membersihkan diri. Kemaluanku pun kubersihkan dari sisa sperma bercampur darah perawan Tari. Sekembalinya aku dari toilet, kulihat Tari masih terbaring di ranjang sambil menangis terisak-isak. Kubiarkan saja dia di sana, karena aku sudah merasa puas dan merasa menjadi lebih muda setelah mereguk kenikmatan dari anak itu.
    Kuminum sisa birku, dan kutelepon Dita untuk menjemput Tari. Tak lama,
    Dita pun datang.
    “Gimana Pak Robert?” tanyanya tersenyum.
    “Wah.. Puas.. Tuh anak enak banget” kataku tertawa kecil.
    “Syukurlah Pak Robert puas. Sengaja saya pilihin yang bagus kok Pak” katanya lagi.
    “Percaya deh sama Dita. Tuh anaknya masih di kamar”
    Dita pun masuk ke kamar tidur sedangkan aku nonton TV di sofa. Lagi-lagi masih berita perang di CNN. Sementara itu, terdengar Tari menangis di kamar sedangkan Dita berusaha menghiburnya. Setelah kurang lebih setengah jam, merekapun muncul dari dalam kamar tidur.
    “Saya permisi dulu Pak Robert” pamit Dita.
    “Oh ya Dit.., kalau ada yang bagus lagi telepon ya. Untuk obat awet muda.” jawabku sambil mengedipkan mataku.
    “Beres Pak” jawabnya sambil menggandeng Tari keluar.
    “Ini tasnya ketinggalan” kataku sambil menyerahkan tas Tari yang berisi buah-buahan untuk adiknya itu. Kuperhatikan mata Tari masih sembab, dan jalannya pun agak pincang ketika meninggalkan kamar hotelku.
    Tak lama akupun cek out dari hotel. Dalam perjalanan pulang ke apartemenku, aku mampir di panti pijat langgananku. Tubuhku agak pegal sehabis menyetubuhi Tari tadi.
    Setelah dipijat, dan mandi air hangat, tubuhku terasa sangat segar. Akupun bergegas pulang dengan mengendarai Mercy silver metalik kesayanganku. Tak lupa kusetel lagu Al Jarreau.

    Cerita Sex: Janda Jablay Karyawan Showroom –

     – Cerita Sex: Janda Jablay Karyawan Showroom – Suatu sore ketika aku berjalan-jalan di sekitar Pasar Ramayana ada seorang wanita mendahuluiku berjalan tergesa-gesa. Isengku timbul, sambil kususul kupanggil dia dari belakang.
    cerita-sex-janda-jablay-karyawan-showroom
    “Da, Ida!” Dia menoleh ke belakang tersenyum dan memperhatikanku.
    “Siapa ya?” tanyanya.
    “Maaf, maaf kukira temanku,” sahutku,
    “Kebetulan dia bernama Ida”.
    “Mau ke mana sih?” tanyaku sambil kuulurkan tangan mengajak berkenalan.
    “Saya Anto”.
    “Ida, Farida” jawabnya sambil menyambut tanganku.
    “Sebenarnya saya mau nonton di Ramayana Theatre, tapi sudah terlambat lagipula filmya nggak bagus”, sambungnya lagi. “Sekarang mau kemana lagi” pancingku. “Nggak ada, mau pulang aja” jawabnya. “Jalan yuk ke Sukasari”. “Mau ngapain?” “Jalan aja, kalau ada film bagus kita nonton di sana aja”. “Ayolah, kebetulan aku juga nggak ada acara, daripada bengong di rumah”.
    Sambil ngobrol akhirnya kuketahui bahwa Ida bekerja di sebuah showroom mobil di Jakarta. Ia janda cerai beranak satu. Sudah dua tahun ia menjanda. Umurnya lima tahun di atasku. Tinggal di daerah Warung Jambu, kost dengan beberapa temannya. Perawakannya sedang, tinggi 160 cm dengan badan yang agak kurus dan dada kecil. Wajahnya lumayan, kalau dinilai dapat angka tujuh. Kacamata minus satu nongkrong di hidungnya.
    Sampai di Sukasari Theatre ternyata film sudah diputar setengah jam.
    “Sekarang bagaimana?” tanyaku.
    “Terserah kamu saja”. Kuajak dia jalan mutar-mutar di Matahari lihat-lihat baju dan kosmetik.
    Akhirnya dia ngajak minum jamu di kedai dekat jalan. Tiba-tiba saja dia menggandeng lenganku berjalan ke kedai jamu tersebut.
    “Mau minum sari rapet” godaku.
    “Nggak ah, saya biasanya minum sehat wanita saja”. Akhirnya dia pesan jamu sehat wanita dan aku minum sehat lelaki. Setelah minum jamu duduk-duduk sebentar di sana dan kami kembali ke Sukasari Theatre. Tak berapa lama loket buka. “Jadi nonton?” tanyaku,
    “Tentu saja jadi, buat apa nunggu lama-lama di sini?”. Aku ke loket beli tiket.
    Dan kembali duduk di sampingnya di lobby. Suasana kelihatan sepi, hanya ada beberapa orang saja yang duduk-duduk di lobby. Sukasari Theatre memang bukan bioskop favorit di Bogor. Kalah sama Sartika 21 yang baru dibuka.

    Akhirnya kami masuk ke dalam bioskop, kemudian film mulai diputar. Beberapa lama kemudian tangannya menyusup ke lenganku. Aku diam saja. Ida semakin merapat. Aku berpaling dan menatap wajahnya. Ia tersenyum dan membuka mulutnya sedikit. Tampak giginya yang berderet rapi. Ia menyorongkan mukanya ke arahku dan mencium pipiku. Aku sedikit kaget atas tindakannya. Aku melepaskan tangannya dari lengan kiriku, lalu kulingkarkan ke bahu kirinya. Muka kami berdekatan. Kutatap lagi wajahnya dan perlahan-lahan muka kami saling mendekat. Matanya agak terpejam dan mulutnya terbuka. Kukecup bibirnya pelan dan lama-lama menjadi ciuman yang dalam. Kacamatanya menghalangi aksiku, kuminta dia melepas kacamatanya. Kuremas dada sebelah kirinya dari luar baju dengan tangan kiriku. Ia menolak dan menepiskan tanganku, tetapi dibiarkan tanganku memeluk bahunya.
    Praktis kami nggak konsentrasi lagi ke cerita film yang sedang diputar. Sepanjang pemutaran film itu kami saling merapat dan berciuman. Kadang-kadang lidah kami saling mendesak ke dalam rongga mulut, bergantian kadang lidahnya menggelitik rongga mulutku, kadang lidahku yang masuk ke dalam mulutnya. Ia mendesah menahan dorongan nafsunya yang tertahan sekian lama. Film habis, kami keluar dan berjalan mencari angkutan.
    “Kalau sudah malam begini dari sini susah cari angkutan ke rumahku ” katanya.
    “Jadi bagaimana?”
    “Kita coba saja ke Ramayana, nanti disambung lagi”. Akhirnya kami dapat angkutan, tetapi hanya sampai Pajajaran saja.
    Kami turun di depan pintu Kebun Raya yang di Pajajaran. Kami menungu lagi di situ.
    “Jam segini nggak ada lagi angkutan ke Warung Jambu kali ya?” tanyaku.
    “Kelihatannya sih nggak ada lagi. Kita cari penginapan saja yuk, saya pernah nginap rame-rame dengan teman-teman di satu penginapan. Agak murah, tapi saya lupa tempatnya”. Sekilas terpikir olehku Wisma T dekat Pasar Kebon Kembang. “Benar nih mau nginap? Saya tahu ada penginapan yang bersih dan murah”. Setelah lima belas menit menunggu ada mobil omprengan plat hitam berhenti di depan kami.
    “Kemana Pak? Mari saya antar” tanya sopir sambil membuka kaca jendelanya. Kami naik dan minta diantar ke Wisma T.
    Sampai di sana ternyata hanya ada kamar standar double bed. Setelah menyelesaikan bill, kami berdua masuk ke kamar. Di dalam kamar kami rapatkan dua bed yang ada. Karena agak gerah kubuka kausku. Ida hanya memandang dan tersenyum saja. Kami berbaring berdampingan di bed masing-masing.
    “Boss-nya yang punya showroom orang mana sih?”
    “Keturunan Arab” Jawabnya.
    “Asyik dong pasti gede punya barangnya. Kamu sering diajak sama boss dong “.
    “Nggak pernah kok”. Entah dia berbohong atau benar.
    “Terus kalau tiba-tiba kepengen gimana?” Ida hanya diam saja. Ida bangun dan kulihat dia membuka celana panjangnya. “Eh ngapain dibuka?” kataku terkejut.
    Ida hanya tersenyum saja. Ternyata dia mengenakan celana pendek santai sebatas lutut di dalamnya. Kembali Ida berbaring di bednya. Karena kedua bed sengaja kami susun berhimpitan, tanganku bisa menjangkau tubuhnya dan kurengkuh mendekat tubuhku. Kembali kami berciuman. Mula-mula hanya kukecup bibirnya saja dengan lembut. Ida membalas lembut dan lama kelamaan mulai menjadi liar. Tangannya memainkan bulu dadaku. Beberapa menit kami saling berciuman dengan dengus napas yang berat. Kutindih dia sambil berciuman. Meriamku di bawah mulai bangkit. Ida merapatkan selangkangannya pada selangkanganku. Mulutku turun ke atas dadanya dan kucoba membuka kancing blouse nya dengan bibirku dan gigiku.
    “Sebentar, aku buka dulu bajuku ya,” Katanya sambil membuka kancing bajunya satu persatu.
    “Jangan, nggak usah dibuka” kataku sambil menahan tangannya.
    “Nggak apa-apa kok. Kamu mau kan”. Katanya mendesah.
    Ia terus membuka baju dan celana pendeknya. Kemudian tangannya membuka ikat pinggangku dan akhirnya menarik ritsluiting dan kemudian dengan perlahan ia menarik celanaku ke bawah. Kini kami hanya mengenakan pakaian dalam saja.
    “Kamu sering mengajak perempuan untuk begini ya?” tanyanya.
    “Ah nggak, aku belum pernah kok berhubungan dengan wanita” kataku berbohong.
    Aku memang sudah beberapa kali berhubungan dengan wanita.
    “Nggak percaya, kelihatannya kamu lihai sekali dalam bercumbu tadi”.
    “Kalau sebatas ciuman emang sih, tapi untuk lebih jauh lagi belum pernah. Paling hanya nonton film dan baca cerita saja”
    “Jadi kamu masih perjaka?” ia meyakinkan lagi.
    “Emangnya kenapa?”
    “Eehhngng..” Ia mendesah ketika lehernya kujilati.
    Ida menindihku dan tangannya kebelakang punggungnya membuka pengait bra-nya. Kini terbukalah dadanya di hadapanku. Buah dadanya tidak besar, hanya pas setangkupan jariku. Terasa sudah agak kendor. Ida mendorong lidahnya masuk jauh ke dalam rongga mulutku. Lidahnya liar memainkan lidahku. Aku hanya pasif saja, sesekali membalas mendorong lidahnya. Tanganku memilin puting serta meremas payudaranya. Ida menggeserkan tubuhnya ke bagian atas tubuhku sehingga payudaranya pas di depan mulutku. Segera kuterkam payudaranya dengan mulutku. Putingnya kuisap pelan dan kugigit kecil.
    “Aaacchh, teruskan Anto.. Teruskan”. Ia mulai mengerang dan meracau, punggungnya melengkung ke belakang.
    Meriamku semakin keras. Ida semakin merapatkan selangkangannya pada selangkanganku, sehingga kadang terasa agak sakit jika dia terlalu keras menindihku. Puting dan payudaranya semakin kencang dan keras. Kukulum payudaranya sehingga semuanya masuk ke dalam mulutku, sambil putingnya terus kumainkan dengan lidahku. Dadanya terlihat memerah dan menjadi lebih gelap dibanding bagian tubuh lainnya pertanda nafsunya mulai terbakar. Napasnya tersengal-sengal. Tangan Ida bergerak ke bawah menyelusup di balik celana dalamku, meremas, mengocok dan menggoyang-goyangkan senjataku. Akhirnya dia menarik celana dalamku sampai ke lutut dan dengan bantuan jari kakinya ia melepaskannya ke bawah.
    Kini aku dalam keadaan telanjang bulat. Ida menggeserkan mulutnya ke arah bawah, menjilati leher dan menggigit kecil daun telingaku. Hembusan napasnya terasa kuat menerpa tubuhku. Dia mulai menjilati putingku. Aku terangsang hebat sekali sehingga harus menggeleng-gelengkan kepalaku untuk menahan rangsangan ini. Kupeluk pinggangnya erat-erat. Tangannya kemudian membuka celana dalamnya sendiri. Kini tangan kiriku leluasa bermain di antara selangkangannya. Rambut kemaluannya tidak begitu lebat dan pendek-pendek. Dengan jari telunjuk dan jari manis kubuka labia mayora dan labia minoranya. Jari tengahku menekan bagian atas organ kewanitaannya dan mengusap bagian yang menonjol seperti kacang tanah. Setiap aku mengusap kelentitnya Ida menggigit kuat dadaku dan mengerang tertahan.
    “Aaauhh.. Ngngnggnghhk”
    Mulutnya bergerak semakin ke bawah, bermain-main dengan bulu dada dan perutku, terus semakin ke bawah, menjilati bagian dalam lutut dan pahaku. Sendi-sendi kakiku terasa mau lepas. Tangannya masih bermain-main di kejantananku. Kini mulutnya mulai menjilati kantung penisku. Tanganku meremas-remas rambutnya untuk mengimbanginya. Aku pikir dia mau meng-oral, tetapi ternyata tidak, dia hanya sampai pada kantung penis saja. Aku hanya menunggu dan mengimbangi gerakannya saja, seolah-olah aku belum pernah melakukan hal ini. Kembali Ida bergerak ke atas, tangan kirinya memegang dan mengusap kejantananku yang telah berdiri mengeras. Ia dalam posisi jongkok di atas selangkanganku.
    Perlahan lahan ia menurunkan pantatnya sambil memutar-mutarkannya. Agak susah dia kelihatannya berusaha memasukkan kejantananku ke liang vaginanya. Mungkin benar juga setelah menjanda dia tidak pernah merasakan lagi nikmatnya berhubungan badan. Penisku memang lebih besar di bagian ujung daripada pangkalnya. Kepala kejantananku dijepit dengan kedua jarinya, digesek-gesekkan di mulut vaginanya. Terasa hangat dan lembab, lama-lama seperti berair. Dia mencoba lagi untuk memasukkan kejantananku. Kali ini.. Blleessh.. Usahanya berhasil. “Ouhh.. Ida ouhh” kini aku yang setengah berteriak.
    Ida bergerak naik turun dalam posisi setengah jongkok. Mula-mula perlahan-lahan dia menggerakkannya, karena memang terasa masih agak kesat dan kering. Aku mengimbanginya dengan memutar pinggulku dan meremas payudaranya. Kepalanya mendongak ke atas dan bergerak ke kanan kiri. Kedua tangannya bertumpu pada pahaku. Ketika lendirnya sudah membasahi organnya Ida mempercepat gerakannya, kadang-kadang dibuatnya tinggal kepala penisku saja yang menyentuh mulut vaginanya.
    Ida menghentikan gerakannya, merebahkan tubuhnya di atasku dan kini terasa otot vaginanya meremas penisku. Terasa nikmat sekali. Aku mengimbanginya, ketika dia relaksasi aku yang mengencangkan otot perutku seolah-olah menahan kencing. Demikian bergantian kami saling meremas dengan otot kemaluan kami. Beberapa saat kami dalam posisi itu tanpa menggerakkan tubuh, hanya otot kemaluan saja yang bekerja sambil saling berciuman dan memagut tubuh kami.
    “Anto, .. Nikmat sekali .. Ooouuhh” desisnya sambil menciumi leherku.
    Ida berguling ke samping, kini dalam posisi menyamping aku yang bergerak maju mundur menyodokkan kejantananku ke dalam vaginanya. Dalam posisi ini gerakanku menjadi kurang nyaman dan kurang bebas. Kugulingkan lagi tubuhnya, kini aku yang berada di atas. Kuatur gerakanku dengan ritme pelan namun dalam sampai kurasakan kepala penisku menyentuh mulut rahimnya. Kuangkat penisku sampai keluar dari vaginanya dan kumasukkan lagi dengan pelan, demikian berulang-ulang. Ketika penisku menyentuh rahimnya Ida mengangkat pantatnya sehingga tubuh kami merapat. “Lebih cepat lagi, oohh.. Aku mau keluar aacchhkk..” Ida memeluk punggungku lebih erat. Betisnya membelit pinggangku, matanya setengah terpejam, kepalanya terangkat sehingga seolah-olah tubuhnya menggantung di tubuhku.
    Kuubah ritmeku, kugerakkan dengan pelan namun hanya ujung penisku saja yang masuk beberapa kali kemudian sekali kutusukkan dengan cepat sampai seluruh batang terbenam. Matanya semakin sayu dan gerakannya semakin liar. Aku mendadak menghentikan gerakanku. Payudaranya sebelah kuremas dan sebelah lagi kukulum dalam-dalam. Tubuh Ida bergetar seperti menangis.
    “Ayo jangan berhenti, teruskan.. Teruskan lagi” pintanya.
    Aku tahu wanita ini hampir mencapai puncaknya. Kugerakkan lagi tubuhku. Kali ini dengan ritme yang cepat dan dalam. Semakin lama semakin cepat. Terdengar bunyi seperti kaki diangkat dari dalam lumpur ketika penisku kunaikturunkan dengan cepat.
    “Ayolah Anto, aku mau sampai “. Gerakan pantatku semakin cepat dan akhirnya
    “Sekarang.. Anto.. Sekarang.. Yeeah!!”
    Kurasakan tubuhnya menegang, vaginanya berdenyut dengan cepat, napasnya tersengal dan tangannya meremas rambutku. Kukencangkan otot perutku dan kutahan, terasa ada aliran lahar yang mau meledak. Aku berhenti sejenak dalam posisi kepala penis saja yang masuk dalam vaginanya, kemudian kuhempaskan dalam-dalam. Serr.. Seerr beberapa kali laharku muncrat di dalam vaginanya. Ida hendak berteriak untuk menyalurkan rasa kepuasannya, namun sebelum keluar suaranya kusumbat mulutnya dengan bibirku.
    “MMmmhh.. Achh” pantatnya diangkat menyambut hunjamanku dan tubuhnya bergetar, pelukan tangan dan jepitan kakinya semakin erat sampai aku merasa kesulitan bernafas, denyutan di dalam vaginanya terasa kuat sekali meremas kejantananku.
    Setelah satu menit denyutannya masih terasa sampai penisku terasa ngilu. Ketika penisku mau kucabut dia menahan tubuhku. “Jangan dicabut dulu, biarkan saja di dalam. Ouhh kamu hebat sekali Anto. Terima kasih kamu telah memuaskanku” Ida mengecup bibirku.
    Kubiarkan dia memelukku sampai penisku mengecil dan akhirnya keluar sendiri dari vaginanya. Malam itu dalam waktu kurang lebih tujuh jam kami bertempur sampai enam ronde. Paginya dia memelukku dan berkata,
    “Aku mau lagi di lain hari”.
    “Ah kamu nakal, perjakaku kamu ambil”.
    “Kamu yang nakal, kamu yang mulai”. Kupeluk dia dan kuangkat ke kamar mandi untuk mandi dan membersihkan diri.
    Akhirnya kuantar dia pulang dan aku berjanji untuk datang lagi ke rumahnya. Ternyata dia tinggal serumah dengan beberapa teman-temannya. Semuanya wanita, sebagian janda dan sebagian lagi masih gadis. Mereka masing-masing punya pekerjaan tetap. ohh nikmatnya ngentot janda
     
    Support : Creating Website | @ZZ@M_IP | @ZZ@M_IP
    Copyright © 2014. Cerita Dewasa Terselubungi - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website Published by @ZZ@M_IP
    Proudly powered by Blogger